Crack Crush

crack crush

“Bertengkar lagi?”

“Jangan salahkan aku, salahkan saja lelaki berengsek itu!”

“Memangnya kau tak lelah bertengkar terus dengannya sejak SMA?”

“Ya, Kau ini sebenarnya sahabatku atau apa. Sudah kubilangkan semua ini ulah lelaki berengsek itu, ck!”

“ya ya, maafkan aku. Cepat habiskan makananmu, sebentar lagi kita harus masuk ke kelas Profesor Kim.”

Hanya ada satu orang yang bisa membuat Jung In Hwa uring-uringan. Dan orang itu adalah buaya menjijikan bernama Byun Baekhyun. Seperti saat in In Hwa sedang uring-uringan karenanya. Bahkan Ahn Min Gi yang mengaku sebagai sahabat gadis itu pun tak bisa mendinginkan hatinya. Kalian tahu betapa In Hwa membenci Byun Baekhyun? Mungkin sebesar Hermione Granger membenci Draco Molfoy. Atau mungkin layaknya air dan minyak. Tak bisa bersatu. Tak bisa akur. Semua ini berawal saat mereka menginjak bangku SMA.

/Flashback/

Ccittt! Sebuah motor hampir saja menabrak seorang gadis. Bukannya meminta maaf sang pengendara motor malah menyalakan lagi mesin motornya hendak meninggalkan gadis itu. Sontak saja sang gadis meraih lengan pengendara motor itu dan memaksanya turun dari kendaraannya.

“Yak apa yang kau lakukan?” Pengendara motor itupun melepas helmnya, kemudian turun dari motornya dengan raut wajah kesal. Wajahnya tampan bak pangeran, tapi tidak dengan kelakuannya, jauh di dalam wajah manisnya tersebunyi banyak kebusukan hatinya. “Apa yang kau lakukan?” ucapnya kasar sambil mengibaskan tangan yang sedari tadi dipegang oleh gadis itu.

“Ck, Seharusnya aku yang berkata seperti itu, apa yang kau lakukan hah! Apa kau tidak punya mata? Atau kau memang belum bisa mengendarai motor sialanmu itu…” dia melirik sekilas pada nametag di seragam lelaki itu, kemudian melanjutkan kata-katanya yang tertunda “.. Ya! Byun Baekhyun ssi apa kau tidak punya sopan santun? Bukannya meminta maaf tapi malah mencoba kabur!”

Lelaki itu hanya menunjukkan seringaiannya menatap lekat gadis itu seraya berkata dengan nada merendakan, “Nona Jung In Hwa yang manis, aku hanya hampir menabrakmu bukan membunuhmu atau pun melukaimu. Kau mau aku minta maaf? Aku akan melakukannya jika aku benar melukaimu. Atau mungkin kau ingin aku lukai? Katakan dimana aku harus melukaimu? Di wajahmu? Di badanmu? Atau…” Baekhyun tak melanjutkan kalimatnya. Sebagai gantinya dia melirik tubuh bagian bawah In Hwa. In Hwa yang menyadari arti dari tatapan Baekhyun pun lantas menamparnya dengan keras. Rasa kesal dan marahnya tidak dapat dibendung lagi. Lelaki ini sudah sangat keterlaluan pikirnya. Rasa anyir khas darah kini lekat di ujung bibir Byun Baekhyun. Perasaan dongkolnya pun membuncah. Baru kali ini ada gadis yang berani menamparnya, bahkan begitu keras hingga cairan kental berwarna merah itu menghiasi bibir manisnya. Sakit memang. Tapi lebih menyakitkan harga dirinya yang telah diinjak. “Kau akan mendapatkan balasannya nanti, Jung In Hwa ssi,” ucap Baekhyun lirih namun tajam, seperti ada amarah yang tertahan didalamnya.

/Flashback End/

***

Sejak kejadian itu genderang peperangan antara Byun Baekhyun dan Jung In Hwa pun tak henti-hentinya ditabuh. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka adalah musuh bebuyutan yang tidak akan pernah melakukan genjatan senjata. Tapi orang itu salah. Semuanya menjadi salah saat kita berbicara tentang cinta. Cinta? Ya cinta. Tapi bagaimana dua orang yang ingin saling membunuh bisa jatuh cinta? Itu hal paling mustahil yang pernah ada. Tapi Tuhan punya kehendak lain. Di tangan-Nya lah kini perasaan Baekhyun dan In Hwa berada. Sekali lagi, semuanya diawali dengan hal yang sama, perseteruan antar keduannya.

“Min Gi, kau mau menemaniku ke toko buku kan? Ayolah ada buku yang harus aku beli,” rayu In Hwa pada sahabatnya.

“Ehm… maaf In Hwa-ya, aku ada janji dengan Minseok oppa,” sesal Min Gi. “Atau mungkin kau bisa ikut dengan kami, nanti biar kusuruh Miseokkie oppa mengantar kita ke toko buku,” imbuh Min Gi.

Heol! Memangnya aku penguntit yang ingin mengganggu kencanmu? Sudahlah biar aku ke toko buku sendiri saja.”

“Benar kau tak apa?”

“Iya, aku tak apa. Sudahlah, cepat pergi sana, Minseok oppa pasti menunggumu” ucap In Hwa untuk mengakhiri percakapannya dengan sahabatnya. Setelah Min Gi pergi, In Hwa pun bergegas keluar dari ruang kuliahnya.

Udara kota Seoul memang terasa hangat, namun awan mendung telah membayangi kota indah itu. Untunglah In Hwa sampai di toko buku sebelum hujan menhadangnya di jalan. Kini ia sedang asik memilih-milih buku yang ingin dibelinya.

“Whoah, ternyata gadis bodoh sepertimu juga suka membeli buku yah,” suara lelaki itu sangat familiar di indera pendengaran In Hwa.

“Jangan menggangguku Byun Baekhyun ssi, pergilah,” timpal In Hwa malas menanggapi Baekhyun yang kini mulai mengiterupsi kegiatannya. In Hwa tak habis pikir bagaimana lelaki seperti Baekhyun bisa berada di tempat seperti ini? Lelaki berandalan seperti dia tak pantas berada di toko buku, pikir In Hwa dalam hati. In Hwa pun mengacuhkan

Baekhyun dan berjalan menuju kasir sambil membawa buku-buku yang akan dia beli. “Ya, gadis bodoh!” Suara Baekhyun menginterupsi langkah In Hwa. “Kau melupakan ini,” ucap Baekhyun sambil mengangkat tas In Hwa yang kini ada di genggamannya. In Hwa pun kembali ke tempat Baekhyun berada dan ingin mengambil tasnya. Saat In Hwa ingin meraih, Baekhyun lebih dulu mengangkat benda itu lebih tinggi.

“Yak kemarikan tasku, dasar sialan!” ucap In Hwa sambil terus mencoba meraih tasnya.

Shireo,” ledek Baekhyun sambil tersenyum puas.

“Hey, kalian berdua, jika ingin ribut diluar saja!! Pengunjung yang lain terganggu gara-gara kalian berisik!” kini petugas di toko buku menegur mereka berdua.

Sungguh memalukan pikir In Hwa. Dia pun merebut tas yang ada di tangan Baekhyun, mengembalikan buku yang akan dibelinya asal-asalan, dan bergegas keluar dari toko buku. Ia berjalan sangat cepat tak memperdulikan orang disekitarnya. Sesekali berteriak dan mengacak rambutya dengan kesal. Terima kasih pada Byun Baekhyun yang telah berhasil membuatnya mood-nya menjadi sangat buruk. Tanpa In Hwa duga, ternyata Baekhyun masih saja mengikutinya.

“Selain bodoh sekarang kau juga gila ya In Hwa ssi,” teriak Baekhyun yang berjalan dibelakang In Hwa.

“Ya berengsek pergilah! Kenapa kau masih saja mengikutiku!” balas In Hwa sambil mempercepat jalannya.

“Berani sekali kau memanggilku seperti itu, ya gadis bodoh berhenti kau!!” Baekhyun kembali berteriak pada In Hwa.

In Hwa yang mulai geram kini menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Baekhyun. Kini mereka berdua sudah saling berhadapan. Tatapan tajam ada di kedua iris insan itu. “Kenapa memang kalau aku memanggilmu berengsek, hah? Itu sangat cocok denganmu, dasar berengsek..” desis In Hwa penuh amarah.

“Jaga bicaramu gadis bodoh!” kini Baekhyun menggerakkan kakinya selangkah mendekati In Hwa.

“AKU BUKAN GADIS BODOH, DIMANA SOPAN SANTUNMU BYUN BAEKHYUN, APAKAH AYAHMU TAK PERNAH MENGAJARIMU SOPAN SANTUN!” teriak In Hwa tepat di hadapan Baekhyun.

“Kuperingatkan padamu ya, jaga bicaramu, atau…”geram Baekhyun menahan amarahnya.

“ATAU APA HAH?! INGIN MELUKAI KU? KAU INGIN MELUKAI PEREMPUAN DI TEMPAT UMUM?! HEOL! SEPERTINYA AYAHMU BENAR-BENAR LUPA MENGAJARIMU SOPAN SANTUN!!” teriak In Hwa lagi.

“Cukup! Dasar gadis bodoh sialan!!”

PLAKK!!

In Hwa menampar Baekhyun dengan sangat keras. In Hwa langsung berbalik ingin pergi setelah menampar Baekhyun, tapi satu lengannya kini telah dicengkram Baekhyun. Dengan satu sentakan Baekhyun pun memutar tubuh In Hwa dan mendekapnya erat.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?!!” ronta In Hwa dalam dekapan Baekhyun.

Baekhyun menjilat darah yang berbekas di sudut bibirnya. Menatap In Hwa tajam. “Sudah kubilangkan dulu, kau akan mendapat balasannya Jung In Hwa.”

“Yak apa maksudmu? Lepaskan aku!”

“Tidak semudah itu,” ucap Baekhyun sambil menunjukkan seringaannya. Sekejap kemudian kontak itu terjadi. Bibir Baekhyun kini berada diatas bibir In Hwa, menari indah diatas bibir gadis itu.

“Errrhmmp,” In Hwa masih berusaha meronta, ingin melepaskan diri dari Baekhyun. Tapi Baekhyun tak memperdulikannya, bahkan ia semakin erat mendekap In Hwa. Tangan kirinya yang sedari tadi bebas kini pun berada di tengkuk In Hwa, memaksanya untuk memperdalam ciuman mereka. Basah. Bukan, bukan karena saliva, tapi bulir itu berasal dari iris In Hwa. Seperti mengerti perasaan In Hwa, langit pun kini juga mengeluarkan tangisnya. Hujan yang sedari tadi melongok dari jendela langit kini telah menyapa tubuh mereka berdua. Meskipun begitu Baekhyun masih saja belum melepaskan ciumannya. Ia telah jatuh dalam lubang yang digalinya sendiri. Baekhyun rupanyan telah menyukai rasa dari bibir indah In Hwa. Bahkan dia telah kecanduaan akannya. Bodoh memang. Awalnya dia ingin melalukan ini hanya untuk mengerjai In Hwa saja. Tapi nyatanya kini Baekhyun tak bisa menghetikan ini semua. Dan kini ada perasaan sesal menyelubungi hatinya terlebih lagi ia bisa merasakan air mata In Hwa di sela-sela ciuman mereka. Baekhyun bukanlah orang bodoh, ia masih bisa membedakan mana air hujan dan mana air mata. Dengan perasaan berat dia melepaskan ciuman itu. In Hwa pun langsung berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun setelah Baekhyun melepaskan ciuman mereka. Ia pergi berlari menyebrangi jalan dan menginggalkan Baekhyun yang berdiri tertegun sendirian dalam hujan. Shit! Apa yang telah kulakukan, umpat Baekhyun dalam hati. Ia pun kini berlari menyusul In Hwa dan berniat untuk meminta maaf.

TIN! TIN! CITTT!!! BRAKK!!!!

Jantung In Hwa berdetak cepat, nafasnya tersengal. Ia membalikkan tubuhnya, mengusap air matanya yang telah berbaur dengan air hujan. Hatinya mencelos melihat pemandangan dihadapannya. Semuannya terjadi begitu cepat. Kini hujan tak hanya bercampur dengan air matanya tapi juga dengan cairan berwarna merah itu. “Ba..B..Baek..” lirih In Hwa memanggilnya lirih.

***

 

“Ah kau sudah sadar rupanya. Jangan bergerak dulu, tulang rusukmu masih banyak yang cidera. Hanya tangan kanan dan tulang rusukmu yang cidera. Yang lainnya masih oke. Kau harusnya bersyukur. Terlebih lagi kekasihmu selalu setia menjagamu.”

Seletah mengganti cairan infusnya, si perawat pun keluar dari kamar rawat itu. Baekhyun kini mengerjapkan matanya seraya memandang sekeliling. Rumah sakit. Kini ia dirawat dirumah sakit karena kecelakaannya tempo hari. Senyumnya secara otomatis terkembang saat ia menyadari keberadaaan gadis itu. In Hwa kini sedang tertidur pulas di samping ranjangnya. Cantik, pikirnya. Baekhyun menduga dirinya pasti telah gegar otak akibat kecelakaan yang dialaminya. Dia tesenyum saat memandang In Hwa, memujinya cantik. Ya, pasti ada yang salah dengan otak Beakhyun. Ia akan meminta dokter untuk memeriksanya nanti.

Baekhyun bergerak seminimal mungkin untuk merubah posisi tubuhnya. Ia tak ingin In Hwa terbangun.

“Ack!!” teriak Baekhyun saat ian mencoba untuk duduk. Tak ayal In Hwa pun terbangun akibat teriakannya.

“Oh, kau sudah bangun,” ucap In Hwa sambil memeriksa kondisi Baekhyun. “Kau tak apa?” tanya In Hwa.

“Tak apa katamu? Ini semua karenamu gadis bodoh,” jawab Baekhyun.

“Heol! Karenaku katamu, seharusnya kau bersyukur aku mau menjagamu semalaman,” ucap In Hwa kesal. “Lebih baik aku pulang saja,” lanjut In Hwa sambil beranjak bangkit dan ingin keluar dari kamar itu.

“Ya, Jung In Hwa jangan perg– Uhuk uhuk uhuk.”

In Hwa yang tadinya hendak pergi pun berbalik memandang Baekhyun. Kini lelaki itu sedang terbatuk di tempat tidurnya. Dari batuknya itu ia menyemburkan darah yang menodai pakaiannya. Wajahnya tampak pucat. Sontak In Hwa pun panik. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi. Dan kembali mendekati Baekhyun. Ia menekan tombol emergency di atas tempat tidur Baekhyun.

“Jangan pergi,” pinta Baekhyun di sela batuknya. “

Jangan bicara dulu Baek, dokter akan segera datang,” balas In Hwa masih panik. Baekhyun menggapai tangganya seraya berkata jangan pergi padanya. In Hwa pun membeku, lantas ia kembali duduk di sofa dekat tempat tidur Baekhyun.

“Ehm, arra. Aku akan di sini,” tuturnya pada lelaki itu.

 

Dokter pun kemudian datang dan memeriksa kondisi Baekhyun.

“Kau harus istirahat total Tuan Byun. Kalau tidak luka-luka dalammu akan bertambah parah.” Baekhyun hanya mengangguk menerima nasihat dokter.

“Nona, apakah kau kekasihnya?”

“Say.. buk…sa..” In Hwa tergagap tak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

“Aku mempercayakannya padamu Nona, dia sangat membutuhkan bantuanmu. Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu. Cepat sembuh ya Tuan Byun,” ucap sang dokter kemudian menginggalkan In Hwa berdua bersama Baekhyun.

Baekhyun kini menatap In Hwa, tapi bukan dengan tatapan tajam seperti biasanya, tatapannya terasa berbeda. In Hwa balas menatap Baekhyun lamat. Setelah sekian detik berlalu In Hwa menghembuskan nafasnya berat. “Baek, aku akan menjaga mu… sampai kau benar-benar sembuh. Maafkan aku Baek..” ucap In Hwa lirih namun ada keyakinan didalamnya. Sensor reflek Baekhyun pun mengirimkan sinyal ke otaknya untuk mengukir senyum tulus diwajahnya. Ia memejamkan mata mengangguk lalu kembali menatap gadis yang kini ada dihadapannya.

***

 

“Ini kamar tamu, kau boleh menggunakannya. Dan disebelahnya kamarku,” Baekhyun menjelaskan seluk beluk rumahnya pada In Hwa. Kini dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun dia tetap harus check up kesehatan setiap minggunya. Dan sesuai janjinya In Hwa selalu menemani Baekhyun. In Hwa sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga Baekhyun sampai ia benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter.

Rumah Baekhyun sangat nyaman. Perpaduan antara rumah tradisional Korea dan desain modern yang ditata sangat apik. Hanya saja rumah itu terasa sangat sepi. Sebelumnya hanya ada Baekhyun seorang dirumah itu.

“Di ujung lorong ini ada perpustakaan, kau bisa menggunakannya saat kau bosan,” jelas Baekhyun pada In Hwa.

“Whoah, benarkah, aku selalu ingin punya perpustakaan sendiri,” seru In Hwa takjub.

“Dan yang ini adalah taman,” Baekhyun melanjutkan penjelasannya.

“Lavender! Cantiknya,” seru In Hwa lagi.

“Kau menyukainya?” tanya Baekhyun.

“Sangat,” jawab In Hwa sambil memandangi taman rumah Baekhyun dengan takjub.

“Sekarang istirahatlah, ini sudah larut,” ucap Baekhyun. “Selamat malam,” imbuhnya.

“Selamat malam juga Baek,” jawab In Hwa.

 

Keesokannya In Hwa sengaja bangun pagi sekali. Ia ingin menyiapkan sarapan. Tapi betapa kagetnya dia ternyata sarapan pun sudah disiapkan.

“Kau menyiapkannya sendiri?” tanya I Hwa pada Bekhyun penasaran.

“Tentu saja tidak, apa kau tidak lihat tanganku masih dibalut perban,” In Hwa menyesal bertanya macam-macam pada Baekhyun ternyata sifat arogan Baekhyun masih tersisa.

“Aku memesannya dari restoran, makanlah,” lanjut Banekhyun seraya menyuruh In Hwa duduk di meja makan.

“Seafood?” tanya In Hwa, ia pun ragu untuk memakannya. In Hwa alergi terhadap beberapa jenis seafood.

“Tenang saja, tidak ada udang dan lobsternya, jadi aman untuk kau konsumsi,” ucap Baekhyun.

“Bagaimana kau tahu aku tak bisa makan udang dan lobster?” tanya In Hwa heran.

“Jangan banyak tanya, makanlah, aku sudah lapar,” kata Baekhyun sambil memulai sarapannya. In Hwa pun mengikutinya menikmati sarapan paginya yang super lezat.

Tinggal bersama Baekhyun selama hampir satu bulan membuat In Hwa sedikit demi sedikit mengetahui sifat-sifat dan rahasia Baekhyun. Selama ini ia hanya menilai Baekhyun sebagai lelaki yang berandalan dan berengsek. Nyatanya lelaki ini sangatlah kasihan dan kesepian. Ibunya selalu sibuk dengan bisnis fashionnya di luar negri dan jarang sekali menemui Baekhyun. Ayahnya? Beliau sudah meninggal sejak Baekhyun masih dalam kandungan. Pantas saja Baekhyun menjadi sangat marah saat dulu dia menyinggung tentang ayahnya. In Hwa pun tak pernah menyangkan bahwa banyak sekali fakta-fakta tentang Baekhyun yang sangat mengejutkannya seperti fakta bahwa Baekhyun suka sekali menonton Pororo. Atau fakta lain bahwa Baekhyun tak bisa makan mentimun, baunya sangat menyebalkan bagi Baekhyun. Atau fakta bahwa rumah yang mereka tempati sekarang ini adalah rumah yang khusus Baekyhyun buat untuk calon istrinya kelak. Banyak sekali hal-hal cheesy tentang Baekhyun yang baru diketahui In Hwa saat mereka tinggal bersama. Dan hal itu tentu saja sedikit demi sedikit merubah penilaian In Hwa terhadap Baekhyun.

 

Waktu berjalan cepat kini sudah dua bulan sejak kecelakaan yang dialami Baekhyun. Itu artinya sudah dua bulan juga In Hwa merawat dan menjaga Baekhyun. Sekarang mereka sedang bersantai tidur di atas rumput di taman rumah Baekhyun sambil memandangi langit yang cerah.

“Apa yang dikatakan dokter.”

“100% Clear.

“Benarkah, wahh akhirnya aku akan menghirup udara kebebasan.”

“Memangnya aku memperlakukan kamu seperti apa? Budak? Tidak kan?’

“Hahahaha, hanya bercanda..”

“Huh, dasar… Ya… Jung In Hwa. Terima kasih telah menjagaku. Dan maaf atas semua perbuatanku kepadamu…”

“Ehmm… aku juga minta maaf Baek.”

“Ehmmm…… dengarkan aku..” Senandung indah keluar dari bibir Baekhyun. In Hwa sontak menoleh menatap Baekhyun. Kemudian ia kembali menatap langit sambil memejamkan matanya menikmati suara indah Baekhyun.

Seems like it was yesterday when I saw your face
You told me how proud you were but I walked away
If only I knew what I know today
Ooh ooh

I would hold you in my arms
I would take the pain away
Thank you for all you’ve done
Forgive all your mistakes.

There’s nothing I wouldn’t do
To hear your voice again.
Sometimes I wanna call you but I know you won’t be there

Oh, I’m sorry for blaming you for everything I just couldn’t do
And I’ve hurt myself by hurting you

Some days I feel broke inside but I won’t admit
Sometimes I just wanna hide ’cause it’s you I miss
And it’s so hard to say goodbye when it comes to this,

 

“Hiks..”

“Ya ya ya… kenapa kau menangis?”

“hah, lagunya sangat sedih Baek, Mengingatkankua pada almarhum ibuku. Kenapa kau menyanyikan lagu itu?”

“Ah, itu… sebenarnya ungkapan hatiku In-Hwa-ya. Aku benar-benar ingin meminta maaf padamu.”

“Nyanyikan lagu lain Baek. Kau sudah membuatku menangis. Lagipula, aku sudah memaafkanmu.”

“Ehm, baiklah. Kali ini dengarkan aku baik-baik.” Baekhyun pun mulai menyandungkan lagu lain.

I hung up the phone tonight
Something happened for the first time
Deep inside it was a rush
What a rush

‘Cause the possibility
That you would ever feel the same way about me
It’s just too much
Just too much

Why do I keep running from the truth?
All I ever think about is you
You got me hypnotized
So mesmerized
And I’ve just got to know

Do you ever think
When you’re all alone
All that we could be?
Where this thing could go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Do you catch a breath
When I look at you?
Are you holding back
Like the way you do?
‘Cause I’m trying, trying to walk away
But I know this crush ain’t going away
Going away

Has it ever crossed your mind
When we’re hanging,
Spending time, girl, are we just friends?
Is there more? Is there more?

See it’s a chance we’ve gotta take
‘Cause I believe that we can make
This into—

Tiba-tiba baekhyun berhenti bernyanyi dan mentap In Hwa.

Wae, kenapa kau berhenti bernyanyi Baek?”

“Ya Jung In Hwa, kau mengerti liriknya kan?”

“Heemm”

So?”

So? Apa Baek? Bicaralah yang jelas.”

“Ya Jung In Hwa kau bilang mengerti liriknya? Jadi bagaimana menurutmu?”

“Kau ini ngomong apa sih Baek?”

“Ya Jung In Hwa! I’ve crush on you, so what about you?”

In Hwa berbalik menatap Baekhyun. Kemudian dia tersenyum.

I’ve crush on you too, chagiya,” goda In Hwa. Kemudian dia bangkit dari tempatnya dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah.

“Ya jika kau menyukaiku kenapa kau meninggalkanku masuk ke dalam?” teriak Baekhyun.

“Disitu panas Baek, kita nonton Pororo saja.”

 

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s