[S]tupid 2: Start Something New

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-15 || chapter || romance

 story before: Part 1

20131118095439_370452_550_444

Living in my own world I didn’t understand

That anything can happen when you take a chance

I never believed in what I couldn’t see
I never opened up my heart
to all the possibilities

I know that something has changed, never felt this way and right here tonight

This could be the start of something new. It feels so right to be here with you

And now looking in your eyes, I feel in my heart, the start of something new

*

“Satu waffle dan satu latte.”

“Satu waffle dan satu latte,” aku menengok pada seorang pria yang mengantre disebelahku, lucu sekali kenapa pesanan kita bisa sama. Suaranya tak asing bagiku. Saat aku menoleh padanya, aku menatap wajah itu. Wajah yang selama ini aku rindukan.

Hey Park Hayoung! Long time no see,” ucapnya serak.

“Sehun-ah? Oh Sehun.. Bagaimana bisa kau ada disini?”

“Yeah. It’s me. Your handsome enemy.. hahaha, menarik sekali bukan, orang pertama yang aku temui malah kau Park Hayoung ssi, sepertinya kau sangat merindukanku, sampai-sampai kau terbengong saat melihat wajahku. Apa aku bertambah tampan, Hayoung ssi?” ucap namja itu dengan percaya diri. Ish, dia masih menyebalkan juga ternyata, tapi apa yang dia katakan benar. Dia bertambah tampan. Dan benar pula, aku merindukannya. Aku merindukan namja menyebalkan ini. Namja yang suka menjegal langkahku saat berjalan di koridor sekolah. Aku merindukan namja ini yang suka menarik kuncirku dari belakang. Aku merindukan namja ini yang menertawakanku saat terjatuh di kelas olahraga. Aku merindukannya. Hanya saja… hanya saja aku tak bisa mengucapkannya secara gamblang kali ini. Ingin aku meneriakkan yang sejujurnya dan menghambur ke pelukannya. Tapi rasa gengsi yang ada di masa lalu itu masih tersisa. Aku tak mungkin melakukan hal tersebut bukan, mengingat aku dan Sehun tak memiliki histori yang cukup baik. Memang ada sedikit kenangan yang menggelayut tentangnya, namun kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk hatiku mendominasi, otakku masih bisa berpikir dengan waras apa yang seharusnya aku lakukan padanya, sesorang yang menyandang label musuh paling menyebalkan.

“Kukira kau berada di Jepang?” ya, itu kalimat paling tepat menurutku untuk menanggapi ucapannya tadi. Aku mengambil pesananku, kemudian mengedarkan pandangan mencari meja untuk menikmati pesananku tadi. Setelah mendapatkan satu yang cukup nyaman menurutku, aku berjalan menuju kesana, sebuah meja dekat jendela.

“Ehm, aku baru saja kembali ke Korea tadi pagi,” sehun menimpali sambil mengekorku menuju meja di dekat jendela tersebut.

“Jadi benar yang dikatakan Jonginnie, kau ke Jepang setelah hari kelulusan?” tanyaku memastikan.

“Ya. Keluarga kami pindah ke Jepang setelah aku lulus. Kakakku mendapatkan pekerjaan yang baik disana. Aku juga melanjutkan studiku di Jepang. Dan ini pertama kalinya aku kembali ke Korea setelah saat itu,” jelasnya.

“Oh…” hanya itu tanggapan dariku. Selanjutnya keheningan yang mengisi ruang diantara kami. Seperti waktu-waktu berduaku bersamanya beberapa tahun silam, jika tak ada perdebatan diantara kami, yang ada hanya keheningan. Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda saat ini. Dalam keheningan itu entah mengapa aku merasa hangat, atau… nyaman? Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaan itu. Aku tak tahu kata yang tepat untuk menyebutnya. Aku juga tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Mungkin karena dekorasi cafe nya yang homey, atau mungkin karena cuaca khas musim gugur, musim favoritku. Atau mungkin latte-nya yang terasa sangat manis. Atau mungkin karena sesosok namja dihadapanku. Aku tak tahu. Yang jelas sekali lagi aku merasa menjadi orang terbodoh di dunia saat ini. Aku tak tahu apa yang sedang aku rasakan. Entahlah…

“Park Hayoung, bisakah kita memulainya dari awal?” pertanyaannya memecah menit-menit dengan keheningan itu.

“Maksudmu?” tanyaku balik tak mengerti dengan apa yang dilontarkannya barusan.

“Masihkah kau mengangapku orang menyebalkan? Musuhmu? Bisakah kita tak menjadi seperti itu. Bisakah kau dan aku berteman secara normal… seperti kau berteman dengan Kim Jongin, atau Namjoon?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” aku membaliknya dengan pertanyaan lagi. Sungguh aku juga tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bisakah aku berteman dengan Oh Sehun seperti yang kulakukan dengan Jongin? Aku ragu pada diriku sendiri karena ada sesuatu hal yang selalu membuat seorang Oh Sehun berbeda dengan Jongin atau teman-teman ku yang lainnya. Dan aku tak dapat memastikan dengan benar apa itu.

“Entalah, aku hanya ingin melakukannya.” jawab Sehun atas pertanyaanku tadi. “So your answer is…” lanjutnya.

“I dont know Oh Sehun, but… let’s try it..” jawabku klise. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk awal yang baru dalam sejarahku dan seorang Oh Sehun. Mungkin ini satu kesempatan untuk kita berdua berlajar untuk lebih dewasa dan menyingkirkan permusuhan bodoh yang ada diantara kami dulu, pikirku.

Seulas senyum yang sudah lama tak kulihat terkembang di wajahnya yang terkesan dingin dan angkuh. Samar dan hampir tak terlihat. Tapi aku bisa merasakan sudut bibirnya tertarik dan matanya bersinar. Aku yakin dia tersenyum untuk sepersekian detik tadi. Dan astaga!! apa ini yang kurasakan? Seperti ada yang bergerak-gerak diperutku. Seperti ada kupu-kupu mengusik menari-nari di sana. Is this that called butterfly effect?

“Hayoung-ah kau punya waktu Jumat ini?”

“Jumat? Sepertinya aku tak mempunyai jadwal pada hari itu, kenapa?”

“Maukah kau menemaniku ke suatu tempat?”

“Kemana? Jangan macam-macam Sehun-ah, kita baru saja genjatan senjata.” tandasku.

“Tenang saja. Aku tak akan macam-macam. Percaya padaku.” Jawabnya meyakinkan.

“Baiklah kalau begitu. Hitung-hitung sebagai langkah awal berbaikan denganmu” jawabku lagi.

“Gomawo”.

Dan begitulah pertemuanku dengan Oh Sehun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun sosok itu menghilang dihidupku. Sebuah janji bertemu lagi merupakan sebuah hadiah dari pertemuan tersebut. Semua kenangan tentangnya pun kini ikut hadir kembali seperti film-film yang diputar dibioskop. Aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi sebuah nama itu, Oh Sehun, hanya satu nama itu yang bisa memutarbalikkan perasaan dan pikiranku begitu saja entah dulu ataupun kali ini.

*

Jumat. Hari itu telah datang. Dan aku sekarang berdiri di samping Oh Sehun, diatas bukit, ditengah kota. dihadapan sebuah makam yang terkesan sangat sederhana. Ini adalah makam ayahnya dan hari ini adalah peringatan lima tahun meninggalnya beliau. Sehun mengatakannya padaku saat aku menanyakan kemana kita akan pergi hari ini saat dia menjeputku dirumah siang tadi. Dingin, semuanya terasa dingin dan senyap. Suasana ini mengingatkanku pada kejadian lima tahun silam saat aku menangis dan memeluknya pertama kali di ruang perawatan intensif rumah sakit. Entah terbawa suasana atau apa, saat ini aku juga memeluknya lagi, tapi tanpa tangisan. Hanya pelukan dalam keheningan. Hanya sebuah pelukan pertanda aku ada disampingnya, hanya sebuah pelukan pengganti kata semua akan baik-baik saja Sehunnie.

Rasa canggung kini hadir dalam Audi hitam yang melaju menembus jalanan kota Seoul yang mulai berangin. Lampu-lampu jalanan dan gedung bertingkat mulai menyala satu persatu. Langit pun mulai berubah menjadi indigo. Alunan musik klasik tanpa vokal mengiringi perjalan kami kembali dari tempat pemakaman. Aku masih tak tahu kemana Audi membawaku .

“Hayoung-ah….Sekali lagi aku berterima kasih padamu, terima kasih kau mau menemaniku hari ini.” tak ada kata yang kucapkan hanya sebuah anggukan kecil dan sebuah gumaman pertanda responku untuk pernyataanya tadi.

“Sekarang kau tinggal dimana?” ganti aku bertanya padanya dan mencoba mencairkan suasana beku yang ada.

“Aku tinggal di apartemen bekas milik teman kakakku. Rumah lama kami sudah kami jual.”

“Sehun-ah, apakah kau akan menetap lagi di Seoul?” tanyaku lagi.

“Aku tak tahu, mungkin untuk sementara aku akan menetap beberapa minggu di Seoul, lalu kembali ke Jepang lagi. Tapi mungkin bisa saja juga aku akan kembali menetap di Seoul selamanya. Aku masih tidak tahu Hayoung-ah. Ku biarkan saja waktu yg menuntun hidupku.”

“Sehun-ah… sebenarnya apa yang membuatmu kembali kesini?”

“Banyak. Peringatan kematian ayah, Urusan pekerjaan…..”

“Urusan pekerjaan? Kau sudah bekerja, whoah daebak!”

“Ehm, begitulah, aku menyelesaikan studiku lebih cepat…. aku ingin membantu hyung menjadi tulang punggung keluarga. Dan satu hal lagi yang membuatku kembali ke sini.. itu karena aku sedang mencari seseorang..”

“Seseorang?? Siapa??” tanyaku penasaran. Apakah seseorang yang dicarinya itu Jinri atau mungkin orang lain? Aku tak bisa untuk tak menghentikan pikiranku menebak siapa yang di carinya saat ini. mungkin sudah menjadi sifatku mudah sekali penasaran akan sesuatu hal.

“Nanti kau juga akan tahu.” Jawabnya yang sama sekali tak memberikan jawaban pada otakku yang penasaran ini. “Jaahhhhh, akhirnya kita sampai.” Imbuhnya membuyarkan lamunanku yang masih mencoba menebak siapa yang di carinya saat ini.

“What! Namsan Tower?!” Ucapku setengah berteriak kaget.

“Ayo turun Park Hayoung, ini satu-satunya tempat yang kurindukan saat aku berada di Jepang selama ini, kau akan terkejut saat berada di atas. Indah.”

Aku tak pernah pergi ke Namsan Tower saat malam hari. Tak kusangka pemandangannya akan seindah ini. Lampu berkelip-kelip seperti lautan kunang-kunang yang menari indah. Ditambah dengan hamparan bintang sebagai atapnya. Bagaikan butiran permata ditebar diatas permadani hitam. Angin semilir yang berhembus merelaksasikan seluruh ototku yang tegang akibat hari-hari sibuk di kota Seoul selama ini. Aku suka tempat ini. Atau mungkin aku jatuh cinta dengan tempat ini. Aku seperti enggan untuk meninggalkanya. Pantas saja dia sangat merindukan tempat ini saat di Jepang. Mungkin dia belum menemukan penggantinya disana. Kami terhanyut pada pemandangan indah di hadapan kami. Aku sempat melirik namja disampingku ini. Matanya berbinar dengan seulas senyum dibibirnya. Seperti seorang anak kecil yang baru saja dihadiahi sebuah mainan paling mahal. Rambutnya tertiup hembusan angin dan sedikit menutupi wajah pucatnya yang bertambah pucat akibat suhu udara yang semakin bertambah dingin. Tampan. Dan sepertinya kupu-kupu dalam perutku mulai menari-nari lagi memberikan rasa yang menggelikan. Tapi aku menyukainya. Aku menyukai perasaan ini. Dia berbalik menatapku.

“Indah bukan Hayoung-ah?” tanyanya kepadaku.

“Ehm indah.” Jawabku dengan anggukan. Ini sangat indah Oh Sehun. Pemandangan yang indah. Tapi kau lebih dari indah bagiku.

Couple walking down Namsan stairs by night. Seoul, South Korea

“Dulu apa sering mengajakku dan hyung pergi kesini. Sejak itu aku jatuh cinta pada tempat ini. aku sering pergi ketempat ini dulu. Jika aku sedang merasa bosan, sedih, bahagia, ataupun jika mood ku sedang buruk karena pertengakran konyol denganmu saat kita masih sekolah dulu …”

“Maaf” selaku.

“Ehm, tak apa. Lagi pula itu sudah berlalu. Tempat ini sungguh berarti bagiku. Aku merasa tenang dan bahagia saat berada disini. Sepeti dulu saat appa dan aku bermain disini. Kau beruntung kaulah orang pertama yang tahu tempat persembunyianku ini Hayoung-ah.”

“Terimakasih… Kau meridukan beliau?”

“Ehm sangat”

“Sehun-ah. Bolehkah aku bertanya padamu?”

“Eoh”

“Kotak musik itu… hadiah ulang tahunku… kenapa kau memberikannya padaku? Aku kan…..”

“Musuhmu?” lanjutnya pada petanyaanku barusan. Aku mengangguk sebagai jawaban iya. “Aku tidak tahu alasannya Hayoung-ah. Aku hanya ingin memberikannya padamu. Itu saja. Mungkin sebagai salah satu tanda maafku padamu karena aku telah jadi orang yang menyebalkan bagimu waktu itu. Kau masih menyimpanya?”

“Ehm. Aku masih menyimpanya. Terima kasih.” Dia hanya mengangguk sebagai jawabannya.

Oh Sehun benar-benar tak terduga. Sangat mengejutkan namja sedingin dia bisa menemukan pemandangan seindah ini. Benar-benar mengejutkan bagiku. Semengejutkan pertanyaan yang muncul dari bibirnya di detik berikutnya, satu pertanyaan tentang hal yang tak ingin aku bahas bersamanya.

“Apa kau memiliki kekasih Hayoung-ah?”

“Ehm………. Namanya Lay.” Jawabku sambil menelan ludah yang entah kenapa terasa sangat pahit.

—TBC—

 

Advertisements

4 thoughts on “[S]tupid 2: Start Something New

  1. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2) | Unspoken Stories

  2. Pingback: [S]tupid 4: Some | Unspoken Stories

  3. Pingback: [S]tupid 3: Thunder | Unspoken Stories

  4. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2) | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s