[S]tupid

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-15 || chapter || romance

stupid

 

*Park HaYoung POV*

Benda kotak itu mulai usang saat aku menemukannya di kardus dibawah tempat tidurku. Aku membukannya. Dan potongan-potongan kenangan itu mulai berputar-putar seperti film di bioskop. Hey kamu, apa kabar?

*

Flashback

Finaly high school.. rasanya hidupku akan memulai petualangan yang baru lagi. Yak ini hari pertama aku masuk sekolah sebagai siswa highschool.. hohoho pastinya petualangan kali ini lebih seru. Aku penasaran bagaimana teman sekelasku kali ini… yehey… bagaikan naik roller coster jatungku berdegup penasaran apalagi yang akan kualami nanti. Hari pertamaku dimulai dengan kegiatan orientasi siswa, eits.. tapi ini bukan masa-masa pem-bully-an yang sering terjadi di tahun awal pelajaran. Di sini kegiatan itu sudah lama dihapuskan karena tidak memiliki nilai edukasi. Kegiatan orientasi siswa yang kami laksanakan cuma sekedar pengenalan lingkungan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah ini. Cukup membosankan sebenarnya, kita harus duduk di aula dan mendengarkan kepala sekolah menjelaskan panjang lebar tentang sekolah ini. Tapi ada satu hal yang membuatku betah berlama-lama disini. Bukan karena presentasi-presentasi menarik dari pihak sekolah, tapi dia. Namja itu. Namja yang duduk di dekat jendela. Dia menggenakan seragam jhs[1] yang sama denganku tapi aku belum pernah melihatnya di sekolah lamaku. Aku bukanlah orang yang mudah tertarik dengan seseorang, hanya saja sikap namja ini sungguh menyebalkan. Aku tak sengaja melihat seorang gadis terjatuh didepannya, tapi dia malah diam saja dan tak menolongnya. Sungguh orang yang angkuh. Dan sekarang dia malah memasang headset, bersikap acuh pada sekitarnya, cih siapa sih dia, mengapa ada orang seangkuh itu?

Setelah selesai mendengarkan ba bi bu dari kepala sekolah, semua murid baru dipersilahkan untuk melihat pengumuman di kelas mana mereka akan ditempatkan. Aku pun tak sabar ingin mengetahui dimana kelasku, rupanya kelas 1-1. Aku pun bergegas menuju kelas tersebut. Banyak teman sekelas yang sudah aku kenal sebelumnya seperti Kim Jongin dan Kim Namjoon si kembar yang jago nge-rap. Aku mengenal mereka saat aku mengikuti les tambahan. Ada juga Choi Jinri dan Jung Soojung, teman sekelasku sejak jhs, mungkin aku bisa bertemen lebih dekat dengannya nanti. Sepertinya teman sekelasku akan sangat menarik. Hehehe… Tapi ….ah sepertinya aku ingin menarik kata-kataku barusan. Namja menyebalkan tadi sepertinya sekelas denganku juga, ah ini benar-benar merusak suasana hatiku. Ku tatap acuh namja tersebut.

“Ayo anak-anak masuk… jangan berkeliaran…” suara serak lelaki paruh baya membuyarkan lamunanku yang sedang merutuki namja menyebalkan itu.

“Perkenalkan, nama saya Do Seung Soo, saya akan jadi walikelas kalian di tahun ini.” ucapnya. “Selanjutnya saya akan meunjuk satu orang yang akan jadi ketua kelas kalian.” Lanjutnya sambil mengedarkan pandangan. Kemudian beliau menunjuk si Jongin untuk menjadi ketua kelas dan memerintahkannya agar memimpin para siswa untuk membersihkan kelas. Kamipun mulai membersihkan kelas seperti yang di instruksikan si Jongin.

“HaYoung-ah,..”.

Wae? Jonginnie, ada apa?”. “Biasakah kau membersihkan ventilasi dan langit-langit..”

Mwo! Aku tidak setinggi yang kau kira Jonginnie..”

“Hah, suruhlah dia membantumu..” ucap Jongin sambil memanyunkan bibirnya menunjuk seorang namja. Dan yah betapa sialnya Jongin menunjuk satu-satunya orang yang tak ingin aku ajak bicara. Namja menyebalkan itu. Tapi apa boleh buat, aku tak mungkin membersihkan ventilasi dan langit-langit kelas sendirian kan. Ku seret langkahku untuk mendekatinya.

“Yak kau, bisakah membantuku membersihkan ventilasi?”.

No”.

“Hey ayolah kata Jongin kau harus membantuku untuk….”.

“Shireo!” namja itu pergi menginggalkanku bahkan aku bekum menyelesaikan ucapanku.

“Hey, yak! Kau mau kemana??!!”teriakku saat namja itu nyelonong pergi dari hadapanku. Mungkin sudah menjadi nasib burukku kali ini, di hari pertama sekolah aku harus membersihkan ventilasi ini sendirian. Yasudahlah mengeluh tak membuat segalanya menjadi beres. Ventilasi-ventilasi itu tak akan bersih dengan sendirinya dengan keluhan keluhanku. Huft, akhirnya aku membersihkannya seorang diri, teman sekelasku yang lainya juga sibuk membersihkan bagian lain dikelas. Aku ingin segera menyelesaikan tugas sialan yang diberikan Jongin kepadaku. Aku berdiri diatas kursi agar bisa mencapai ventilasi itu, oh namun tiba-tiba saja kursi itu bergerak dan buk! Aku memejamkan mataku takut akan sakitnya tubuhku jika mencium lantai. Tapi kenapa lantai bisa begitu lembut? Seperti ada lengan yang menopang badanku. Kubuka mataku perlahan. Apa ini. Namja menyebalkan itu menahan tubuhku.

“Hey kalian berdua aku menyeruh kalian untuk membersihkan ventilasi dan langit-langit bukannya bermesraan” Jongin memandang kesal ke arah kita.

“Yak. Diam kau Jjong. Dan kau, turunkan aku cepat!!” ucapku sambil meronta dari pelukan namja sialan itu. “Dan kau yang melanjutkan membersihkannya!!!” perintahku padanya kemudian aku meninggalkannya. Sempat kulirik dia saat aku akan keluar dari ruang kelas. Dan yah, untunglah dia mau menlajutkan pekerjaanku tadi. Setidaknya Jongin tak akan mengomel lagi tentang ventilasi. Biar saja dia melanjutkannya, aku ingin menenangkan diriku yang terlalu shock dengan kejadian barusan.

*

Time goes by. Begitu pula dengan kehidupan. Menjalani hidup sebagai siswa highschool tidaklah semudah yang dikira. Tugas-tugas dari Do Seonsaengnim sangatlah mencekik hari-hariku. Tapi untunglah aku berteman baik dengan Kim Namjoon. Tidak seperti kembarannya, Jongin, yang selalu usil, Namjoon adalah seorang yang lebih tenang dan prestasi akademiknya tidak diragukan lagi. Aku sering meminta bantuannya dalam menyelesaikan tugas-tugasku. Mempunyai teman yang pintar memang menguntungkan, haha. Selain itu kehidupan remajaku juga kuisi dengan kegiatan-kegiatan menarik. Pergi ke bioskop, berbelanja dengan Soojung, atau menghabiskan waktu di cafe sambil menikmati live music dengan si kembar Kim. Hanya satu hal yang menyebalkan dihidupku. Kalian pasti bisa menebaknya bukan? Ya. Namja menyebalkan itu. Sehun. Namanya Oh Sehun. Entah kenapa aku selalu tak suka melihat dia di sekitarku. Mungkin karena kesan pertama kita saat bertemu, atau apalah aku juga tak tahu, dan aku juga tak berniat mencari tahu. Tapi sialnya hidupku selalu berkutat dengannya terlebih lagi sekarang saat Do Seonsaengnim memberikan tugas akhir untuk kita. Yang benar saja aku satu kelompok denganya, apa yang terjadi dengan tugasku nantinya? Aku tak ingin nilaiku hancur gara-gara aku tak suka dengan anggota kelompokku. Ya memnag sih masih ada Namjoon dan Choi Jinri yang juga satu kelompok denganku. Tapi tetap saja aku tak suka. Lebih baik aku berkelompok dengan Jongin dan diusilin sampai mati daripada harus berkelompok dengan namja semenyebalkan Oh Sehun. Sayangnya aku tak bisa merubahnya. Dan disinilah kita di ruang tamu rumahku sambil sibuk mengerjakan tugas akhir dari Do Seonsaengnim.

“Jinri.. dimana kau taruh buku yang tadi kita pinjam di perpustakaan?” tanya Namjoon sambil mencari-cari sesuatu.

“Bukannya kau yang membawanya Joon-ah?” jawab Jinri.

“Apa yang kau cari Joon?” tanyaku penasaran.

“Buku yang tadi aku pinjam bersama Jinri di perpustakaan. Kita tak bisa menyelasaikan tugas kita tanpa itu.” Jelas Namjoon.

“Ck, ceroboh sekali” komentar Sehun.

“Diamlah kau Sehun, mungkin Namjoon tak sengaja melakukannya. Memangnya kau bisa menyelesaikannya tugas itu seorang diri? Ish..” ocehku tak terima dengan kata-katanya.

“Sudahlah Hayoung-ah, memang benar ini salahku. Sepertinya aku meninggalkannya di kedai bibi Lee saat mampir membeli es krim tadi.” Jelas Namjoon. “ Jinri-ah bisakah kau ikut denganku mencari buku itu. Dan kalian, Sehun, Hayoung aku mohon jangan bertengkar dan lanjutkan tugas ini. Waktu kita tak banyak untuk menyelesaikannya.” Tandasnya. Apa boleh buat. Sepertinya nasibku benar-benar jelek jika berada di sekitar Oh Sehun. Menyelesiakn tugas akhir berdua tanpa si pintar Namjoon apa jadinya ini?

“Jangan bengong, cepat kita selesaikan, aku banyak urusan.” Suara Sehun membuyarkan lamunanku.

“Ish.. Jangan memerintahku Oh Sehun!!”

“Terserah..”

Menit-menit berikutnya terisi dengan keheningan antara kita berdua. Tak ada suara hanya tanggan yang terus bekerja menyelesaikan tugas-tugas itu sejenak sebelum suara ringtone dari ponsel Sehun membelah kesunyian diantara kita.

“Ne omma.. Ne aku akan segera kesana” jawab Sehun kemudian dia mengambil helm di sampingnya dengan tergesa.

“Kau mau kemana? Tugas kita belum selesai..”

“Aku harus pergi”

“Yak, Oh Sehun jangan bertingkah seenaknya!” ucapku kemudian membuntutinya keluar dari rumahku dengan tergesa. Aku langsung melompat ke motornya saat dia mencoba men-strater benda itu. “Urusan kita belum slesai Oh Sehun, aku tak akan membiarkanmu kabur.” Dia tak menggubris ucapanku melainkan men-gas motornya dengan kecepatan tinggi.

Andai waktu dapat kuulang, aku tak ingin dengan cerobohnya naik ke motor Oh sehun dan mengikutinya. Andai waktu dapat kuulang, aku tak akan berdiri di tempat ini dan berada di suasana seperti ini. Andai waktu dapat kuulang, aku tak akan memeluk Oh Sehun seperti ini. Ya aku memeluk Oh Sehun. Mungkin kalian mengataiku tak waras, atau mungkin memang aku sudah hilang akal. Kami sampai ditempat ini 15 menit yang lalu. Rumah sakit. Tempat yang kami datangi adalah rumah sakit. Lebih tepatnya ruang perawatan intensif yang merawat ayah Oh Sehun selama ini. Ibunya sedang menangis tersedu-sedu dipelukan anak tertuanya, kakak laki-laki Sehun. Yah, ayahnya telah tiada. Aku merasa berada di tempat yang salah di saat yang salah pula. Aku melihat wajah pucat Oh Sehun semakin bertambah pucat. Tak ada kata-kata yang terlontar dari mulutnya, tak ada air mata menderai di pipinya. Hanya tatapan kosong yang penuh akan duka yang mendalam. Entah setan apa yang memasukiku, otakku seperti berhenti berfikir. Seperti ada yang menggerakkan tubuh ini untuk memeluknya tubuh namja itu. Memeluk musuh bebuyutanku Oh Sehun. Dan derai air mataku seperti hujan yang tumpah saat tubuhku berada di dadanya. Lucu bukan. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku. Aku memeluknya erat. Dan dia hanya berdiri tegak tak ada raungan diri dirinya. Hanya belaian lembut dirambutku, diatas kepalaku. Seakan dia ingin menenangkanku. Hell, bukan aku harusnya yang ditenangkan, melainkan dia.

“It’s Okay Sehun-ah, It’s okay..” ucapku ditengah isakan yang bertubi-tubi, mencoba memberikan kekuatan padanya.

“Ne..” ucapnya. Aku masih berada dipelukkannya saat sesuatu yang hangat menetes di kepalaku. Bulir itu. Setetes air mata Sehun membasahiku. Dan aku semakin terisak karenanya.

*

Tak ada yang berubah dari hidupku semenjak kejadian itu. Aku masih menganggap Sehun namja yang menyebalkan. Musuhku. Penilaian akan sesuatu memang susah dirubah. Hell, yang benar saja, namja seperti Oh Sehun memiliki sifat yang tak mudah berubah. Dia tetap menyebalkan kau tahu, walaupun tak semenyebalkan dulu.

Ralat. Ada satu perubahan dalam hidupku. Sekarang aku sudah memiliki kekasih. Namnya Min Yoongi. Dia adalah sepupu Soojung. Aku berkenalan denganya saat ulang tahun Soojung sebulan yang lalu. Dia baik, manis, dan romantis. Kecintaanya pada fotografi lah yang menyatukan kita. Sam seperti dia, aku sangat mencintai fotografi. Hampir setiap akhir pekan aku selalu menyempatkan waktu untuk ‘berburu’ objek-objek menarik. Dan minggu-minggu terakhir ini Yoongi oppa selalu menemaniku.

Besok aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Yoongi oppa. Berjalan-jalan di taman sambil ‘berburu’ objek-objek menarik, menonton musikal, kemudian menghabiskan waktu menikmati live music di cafe terdengar sangat menyenangkan. Aku putuskan pergi ke tempat kerja paruh waktu Yoongi oppa untuk memberi tahu rencanaku tadi. Tapi bukannya perasaan bahagia yang muncul dalam relung hatiku. Tapi perasaan sesak dan marah. Aku melihat Yoongi oppa bermesraan dengan wanita lain. Bahkan dia mencium bibir wanita jalang itu. Tanpa basa-basi kutonjok hidung Yoongi Oppa kemudian keluar meninggalkannya. Kudengar dia berteriak meminta maaf. Tapi aku tak menggubrisnya. Yang terlihat di kedua bola mataku tadi sudah mengatakan segalanya. Aku berlari sekuat tenagaku dan mencoba menahan air mata yang sudah mulai menggenang di pelupukku. Aku tak ingin menangis hanya karena lelaki bodoh seperti dia. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku sampai di sebuah taman di pinggir dan duduk menangis meraung-raung disana. Aku tak peduli pada orang disekitarku, aku hanya ingin menumpahkan semua amarahku pada lelaki brengsek itu.

Sepasang tangan memasangkan suatu benda di kepalaku, sejurus kemudian alunan musik klasik memenuhi gendang telingaku. Aku mendongak ingin tahu siapa yang memsangkan headphone ini padaku.

“Uljima, kau menakuti anak-anak yang ingin bermain,” ucap namja itu.

“Sehun??”

“Neo gwenchana?” tanyanya lagi padaku.

Aku masih tersikap tak tahu bagaimana harus bertindak. Ini sangat diluar dugaan. Tapi selanjutnya aku melepas headphone miliknya dan menceritakan apa yang barusan aku alami. Bahkan aku tercengang pada diriku sendiri kenapa aku bisa menceritakan kehidupan pribadiku secara gamblang pada namja yang notabene ku anggap sebagai orang yang paling tidak aku sukai. Cerita panjang itu akhirnya selesai. Tak ada tanggapan dari Oh Sehun. Di lain sisi hatiku terasa lebih ringan. Menit-menit selanjutnya kita habiskan berdiam diri memandani taman hingga langit berubah kemerahan. Tak lama kemudian Sehun berdiri dan berpamitan. Aku hanya menjawab ala kadarnya dan tak memperhatikannya saat ia pergi. Kakiku tersandung sebuah kotak yang dibungkus kertas kado berwarnya putih dan dihiasi sebuah pita berwarna biru. Ada sebuah kartu ucapan yang terikat pada pita tersebut. Sepertinya kotak ini milik Oh Sehun, dia yang membawanya tadi. Aku membuka kartu ucapan tersebut, ingin memastikan bahwa ini memang milik Sehun. Anamu betapa kagetnya aku saat membaca kata-kata di dalamnya. Dalam kartu tersebut tertuliskan

To : Park Hayoung

Maaf aku selalu membuatmu sebal

Selamat ulang tahun

-OSH-

Besok adalah hari ulang tahunku. Itu sebabnya aku ingin mengajak Yoongi oppa menghabiskan waktu bersamaku. Aku ingin menghabiskan hari ulang tahunku bersama kekasihku. Tapi malah kenyataan pahit yang aku dapatkan. Dan satu lagi kenyataan mencengankan. Seorang Oh sehun memberikan kado untukku dan dia mengatakan maaf. Ini benar-benar hari yang ‘menakjubkan’. Kubuka kado tersebut. Aku tidak perlu meminta ijin bukan. Ada namaku tertera disana. Memangnya ada berapa Park Hayoung yang dikenal Oh Sehun. Aku rasa cuma aku orangnya. Sebuah benda kotak sekarang berada di genggamanku. Kubuka kotak tersebut, alunan musik yang sangat merdu terdengar. Ada sebuah boneka balerina ditengah kotak tersebut, menari mengikuti alunan musik. Sebuah senyum yang tak bisa kubendung terpatri di wajahku. Terima kasih Oh Sehun.

*

“Ku dengar mereka hanya teman dekat”

“Apakah kau tidak tahu? Mereka sudah berkencan”

“Yang benar?”

“Aku melihatnya semalam mereka ke gedung bioskop bersama-sama. Aku yakin Sehun dan Jinri sudah berkencan.”

Ish.. bahkan diperpustakaan yang merupakan tempat paling tenang di seantero sekolah ini telah berubah menjadi sarang bagi gadis-gadis rumpi itu bergosip. Ya sudah seminggu ini rumor kedekatan Sehun dan Jinri beredar. Keduanya memang termasuk siswa-siswa populer di sekolah. Tak heran jika berita tentang keduanya selalu menjadi topik hangat di sekolah ini.

“Ck! Apakah mereka tak bisa diam?!!” bisikku kesal.

“Kau kenapa Hayoung-ah? Cemburu?” ucap Soojung yang duduk di sampingku.

“Yang benar saja..”

“Akui saja Young-ah kau selau membicarakannya. Ku rasa kau menyukainya. Oh tidak aku yakin tentang itu. Kau menyukainya kan. Kau cemburu. Terlihat jelas di matamu young-ah”

“Jaga bicaramu Jung, jangan ngaco!” ucapku ketus kemudian melanjutkan kegiatan membaca yang sempat tertunda.

Soojung tersenyum penuh arti melihat tingkah-lakuku barusan. Ini menyebalkan. Aku tak mungkin menyukai Oh Sehun. Itu tak mungkin. Meskipun ada rasa tak suka tentang rumor kedekatan Sehun dan Jinri tapi itu tak mungkin cemburu kan. Sudahlah, aku tak mau memikirkan tetek bengek tentang rumor itu. Aku harus fokus belajar. Sebentar lagi ujian kelulusan dan aku harus masuk ke peringkat terbaik jika aku ingin masuk perguruan tinggi ternama di Seoul.

“Young-ah. Park Hayoung??” Ucap Jongin keras sambil menlambaikan tangannya di depan mukaku.

“Ya. Jjong, aku tak apa.” Jawabku tak bersemangat.

“Benarkah? Wajahmu pucat dan sedari tadi kau hanya mengaduk-aduk makanan mu tanpa menyendoknya sekalipun. Gwenchana?”

“Oh.. aku hanya memikirkan ujian kelulusan.”

“Ujian kelulusan atau Oh Sehun?”

“Apa maksudmu berkata seperti itu, jangan ngaco seperti Soojung, Jjong?”

“Look. Aku ini teman dekatmu. Soojung juga. Kita tahu apa yang kau sembunyikan. Kau menyukai Sehun, iya kan? Atau kau tidak tahu dengan perasaanmu sendiri?”

“Hah.. apa yang ….”

“Jangan banyak alasan Young-ah. Aku tahu. Dan aku juga tahu kalau Oh Sehun memiliki perasaan yang sama denganmu.”

“Kalau dia menyukaiku, dia tak mungkin berkencan dengan Jinri..”

“Dia memang tak berkencan dengan Jinri. Itu hanya rumor Park Hayoung. Percayalah”

“Kalau dia menyukaiku, dia yang seharusnya mengatakan ini padaku. Bukannya kau Kim Jongin” tandasku.

“Sudahlah, susah berdebat denganmu Young-ah. Kau ini susah sekali di kasih tahu. Oh ya, Sehun akan pergi ke Jepang setelah kelulusan ini. Kakaknya mendapat pekerjaan disana. Dia akan menetap di Jepang. Aku rasa kailan harusnya mengakhiri permusuhan konyol diantara kalian.”

Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibirku. Sehun ke Jepang. Menetap. Seharusnya aku biasa saja mendengar hal itu. Toh tak ada hubungannya denganku kan dia mau menetap dimana. Tapi ada sesak yang menyeruak di hatiku. Seakan jantungku ingin berhenti berdetak. Seakan hati ini ingin meledak.

Flashback End

*

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya waktu itu aku tahu rasa itu adalah sayang atau bahkan cinta aku tak akan melepas Sehun begitu saja. Kenaifan dan keegoisanku telah merenggut itu semua. Menjadikan aku manusia terbodoh di dunia. Ku buka benda berbentuk kotak itu dan menikmati alunan musik dan balerina kecil yang menari-nari ditengahnya. Hanya benda ini yang tersisa dari seorang Oh Sehun dihidupku. Selain kenangan-kenangan itu tentunya. Aku tak tahu sekrang dia berada dimana. Mungkin di Jepang seperti yang dikatakan Jongin padaku dulu. Dimanpun dia sekarang aku tetap akan mengingatnya sebagai satu-satunya musuhku yang menyebalkan. Satu-satunya namja yang kurindukan.

stupid-kotak musik

 

 

 

 

“Satu waffle dan satu latte”

“Satu waffle dan satu latte”. Aku menengok pada seorang pria yang mengantre disebelahku, lucu sekali kenapa pesanan kita bisa sama. Suaranya tak asing bagiku. Saat aku menoleh padanya, aku menatap wajah itu. Wajah yang selama ini aku rindukan.

“Hey Park Hayoung, Long time no see.” Ucapnya serak.

“Sehun-ah? Oh Sehun.. Bagaimana bisa kau ada disini?”

 

 

 

 

Bonus Pict:

Min Yonngi
Min Yonngi
stupid-oh sehun
Oh Sehun
stupid-kim jongin
Kim Jongin
stupid- kim namjoon
Kim Namjoon
stupid- jung soojung
Jung Soojung
stupid-choi jinri
Choi Jinri

[1] Junior high school

Advertisements

5 thoughts on “[S]tupid

  1. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2) | Unspoken Stories

  2. Pingback: [S]tupid 4: Some | Unspoken Stories

  3. Pingback: [S]tupid 3: Thunder | Unspoken Stories

  4. Pingback: [S]tupid 2: Start Something New | Unspoken Stories

  5. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2) | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s