[S]tupid 3: Thunder

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-15 || chapter || romance

Part 1 || Part 2 

-visit_to_Namsan_Cable_Car-20000000005722414-500x375

I guess you went too far away
As time passes you and I are more distanced
Already you’re probably far away
becoming someone else’s light

You were very fast like lightning
We were so different
Between us, the time difference
became the space that will not allow us to be together

I was late like thunder
I’m regretting it now
Boom Boom Boom Boom
I let out a sound late calling for you

 

Sehun POV

“Apa kau memiliki kekasih Hayoung-ah?” aku tak bisa menghentikan bibirku untuk tak mengutarakannya.

Aku begitu penasaran pada gadis ini. gadis yang selalu bisa menarik irisku untuk memandangnya. Seakan ada magnet di dalam dirinya yang mampu menarikku untuk selalu mendekat. Dulu aku sering sekali mengganggunya hanya untuk mendapatkan perhatian gadis ini. Dan sekarang dia berdiri disampingku. Ingin sekali aku memeluknya erat, melampiaskan rinduku yang tertinggal selama ini. Tapi aku harus menahannya. Aku tak mau dia mengangap lelaki yang kurang ajar, lagi pula kita baru berbaikan beberapa hari yang lalu.

“Ehm… Namanya Lay,” jawabnya. Seakan petir menyambar ketika aku mendengar jawabannya. Lucu sekali bukan. Dia yang selama ini aku tunggu ternyata telah terlalu jauh pergi. Mungkin rentan jarak yang jauh telah memisahkan kita. Ada sedikit rasa sesal kini melanda hatiku. Ku hembuskan nafas berat.

“Oh..” jawabku sambil tersenyum pahit mencoba menutupi apa yang sekarang kurasakan.

“Kalau kau bagaimana?” tanyanya. “Jangan bilang kau tak punya kekasih Oh Sehun, aku tak akan percaya jika kau tak mempuyai kekasih,” tambahnya.

Dia menatapku tajam pertanda meminta jawaban jujur dariku. Tidak Hayoung-ah aku tidak mempunyai kekasih, maukah kau percaya itu, seruku dalam hati. Aku balik menatap wajahnya. Mata itu lagi. Mata hazel sangat indah. Aku sangat suka mata itu. Bisa-bisa aku terhipnotis dan tak berdaya karenanya. Dia masih saja menatapku meminta jawaban. “Naomi Haibara, namanya Naomi Haibara. Tapi sekarang dia tidak bisa bersamaku lagi,” jelasku padanya.

“Tapi kenapa dia tidak bersamamu. Apa dia orang yang kau cari itu?”

“Kau sepertinya penasaran sekali dengan hidupku. Apa kau menyukaiku, hah?” godaku padanya.

“Yak! Jangan mulai lagi Oh Sehun!” ucapnya sambil marah-marah. Wajahnya sangat lucu saat marah-marah seperti itu.

“Dia sudah berada di surga sekarang. Aku mengenalnya saat aku berada di Jepang.”

“Oh jadi.. Ehm, maafkan aku.”

“Tak apa,” jawabku. Membicarakan Naomi mengingatkanku pada sosoknya yang berparas ayu, rambutnya yang panjang dan halus serta kepribadiannya yang lemah lembut. Sangat jelas berbeda dengan gadis di sebelahku ini yang selalu (terlalu) ekspresif dan meledak-ledak. “Hayoung ah.. Aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu?” ada satu hal yang selalu mengusik pikiranku tentang Park Hayoung selama ini. Bahkan setelah aku tinggal di Jepang selama ini.

“Ehm katakanlah,” jawabnya. Aku menatap matanya lagi. Manik hazel kesukaanku.

“Ini tentang kita saat disekolah dulu. Apakah ka-,” belum sempat aku menyelesaikan pertannyaanku, dia mengangkat tangannya seraya berkata “Sebentar Sehun-ah, sepertinya aku ada telepon. Aku akan mengangkatnya dulu sebentar,” kemudian dia bergerak menjauh beberapa meter dariku. Dan pertanyaanku menggantung begitu saja. Mungkin lain kali ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikannya pada Park Hayoung. Katatap kembali landscape kota Seoul dari atas Namsan. Semilir angin malam menerpa wajahku. Udara dingin khas musim gugur serasa semakin membeku. Kunyalakan sebatang rokok untuk mengahangatkan tubuhku sambil menunggunya selesai menerima telepon. Ah, kenapa begitu dingin sekali malam ini, keluhku dalam hati.

*

I know now
Now I am afflicted over you
Thunder Thunder Thunder I want to grab you
Thunder Thunder Thunder

I’m following you following you
Chasing you chasing you
Looking for you looking for you
You’re getting farther and farther away

Lay POV

“Hallo, Sweetheart?”

“Hallo, Oppa.. kenapa telepon malam-malam?”

“Aku merindukan kekasihku gadis bodoh, hahaha, kau sekarang sedang apa?”

“Ehm, aku sedang keluar bersama temanku. Oppa, apa kau sedang berjaga dirumah sakit?”

“Yak gadis bodoh, kenapa keluar malam-malam begini. Angin malam tak bagus untuk kesehatan. Ckkkk, kau ini. Iya, aku baru saja keluar dari ruang operasi dan sepertinya akan berjaga sampai pagi. Para dokter yang lainnya sudah pulang hanya ada aku dan Namjoon yang berjaga. Kau juga pulanglah, jangan terlalu banyak diluar malam-malam begini, arra?”

“Ne oppa, aku akan segera pulang. Kau tak perlu mengomel lagi nanti wajah tampanmu penuh keriput. Hehehe. Sampaikan salamku juga untuk Namjoon, katakan padanya aku akan datang berkunjung ke appartemennya lusa. Sudah ya. Bye-”

“Tunggu dulu Hayoung-ah. Aku belum mendapatkan goodnight kiss-ku.”

“Yak oppa! Sejak kapan kau jadi cheesy seperti ini.”

“Sudalah lakukanlah. Aku menunggu.”

“Baiklah baiklah. This is goodnight kiss for my lovely oppa. Chuu~ Apa kau sudah puas?”

“Hahaha. Ya ya ya. Sekarang tutuplah teleponnya. Dan jangan pulang terlalu larut.”

“Arraseo. Bye oppa, jaga dirimu juga, jangan terlalu banyak minum kopi.”

Alright dear. Bye

Dan akhirnya sambungan telepon itu pun terpurtus. Aku meregangkan kembali badanku yang terasa lelah setelah dua jam berkutat di meja operasi.

“Apakah itu Hayoung, hyung?” tanya seorang namja disampingku.

“Ehm, katanya dia akan berkunjung ke apartemen lusa.” jawabku pada Namjoon yang duduk disampingku dan sibuk berkutat dengan catatan-catatan kesehatan pasien.

Namjoon adalah hoobae-ku di rumah sakit. Dia adalah mahasiswa tahun ketiga yang sedang magang di rumah sakit tempat aku bekerja. Kekasihku kebetulan adalah teman baikknya. Aku bertemu dengan Hayoung saat dia dirawat di rumah sakit ini. Namjoon dan Hayoung juga merupakan hoobae-ku di bangku kuliah. Kami berada di universitas yang sama. Hanya saja aku berbeda jurusan dengan Hayoung, kekasihku. Dia belajar di jurusan seni terapan, sedangkan aku dan Namjoon di pendidikan dokter. Aku sendiri sebenarnya bukan warga asli Korea. Aku lahir dan dibesarkan di Changsa, sebuah kota kecil di China. Aku bisa menuntut ilmu di sini karena aku berhasil mendapatkan beasiswa atas prestasiku di bidang akademik. Dan lebih beruntungnya aku setelah menyelasikan studiku, aku mendapatkan pekerjaan tetap dengan penghasilan yang lumayan di negara ini. Selain itu, hal yang tak bisa membuatku berhenti bersyukur adalah disinilah aku juga bertemu dengan gadis yang membuat hariku lebih bewarna. Awal pertemuan kami memang tak menyenangkan bahkan cenderung menyebalkan. Awalnya dia adalah salah satu pasien di rumah sakit ini saat aku baru saja bekerja disini. Dia merupakan salah satu pasien yang sangat cerewet, tak mau meminum obat dan dan tak mau disuntik. Para dokter senior melimpahkan tugasnya untuk menangani dia kepadaku. Sebagai junior waktu itu tentu saja tak bisa melawan. Namun kali ini aku bersyukur atas kejadian itu. Karenanya aku bisa bertemu dengan gadis yang membuatku nyaman berada di sampingnya.

“Aku heran hyung, bagaimana bisa kau berkencan dengan gadis gila itu?” celetuk Namjoon disela-sela akivitasnya.

“Yang kau sebut gadis gila itu sahabatmu sendiri,” ucapku padanya.

“Terserahlah, tapi kudengar waktu itu banyak sekali sunbae cantik yang naksir padamu. Bahkan Yuri sunbae juga tertarik padamu tapi kau malah memilih Hayoung temanku yang biasa-biasa saja itu?” tanya Namjoon panjang lebar padaku sambil mentapku penasaran.

“Haha, aku juga tidak tahu alasannya jika kau bertanya seperti itu Joon-ah. Mungkin temanmu yang biasa-biasa itu mempunyai sesuatu hal yang tidak dimiliki gadis lain. Bahkan Yuri juga tak memiliki sesuatu itu. Sesuatu yang yang bisa membuatku menjatuhkan hatiku pada Hayoung. Sesuatu yang membuatku selalu penasaran dan selalu ingin tahu tentangnya,” jelasku pada Namjoon.

“Wow, tak kukira Hayoung sebegitu berartinya bagimu hyung, gadis bodoh itu benar-benar telah menjeratmu,” timpal Namjoon dengan mata yang berbinar. Ada rasa panas yang menjalar diwajahku saat dia mengatakan hal tersebut.

“Ah.. Sudahlah jangan membicarakan ini terus. Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan yang menumpuk ini” jawabku mencoba mengalihkan perhatian. Aku jarang sekali membicarakan kisah cintaku dengan orang lain. Aku tak terbiasa dengan hal tersebut. Hanya ada beberapa orang yang dapat membuatku nyaman membicarakan tentang percintaan. Salah satunya Namjoon, mungkin karena dia adalah sahabat Hayoung.

*

Going over time’s wall, I’m looking for you
Although it may be different now, the beginning is the same
I trust that we can still go back
One two we count the seconds as we measure the distance

Hayoung POV

Setelah selesai menerima telepon dari Lay Oppa, aku kembali ketempat Oh Sehun berada. Sambil berjalan mendekat aku perhatikan sosoknya lamat-lamat. Dia masih sama seperti beberapa tahun silam kala aku terakhir melihatnya. Badannya tinggi dan tegap, dengan paras tampan namun terkesan dingin selalu menghiasi wajahnya. Hanya saja dia kini lebih dewasa dan matang. Bukan lagi namja berandalan yang menyebalkan seperti saat kami berada di sekolah dulu.

“Apa yang ngin kau tanyakan tadi Sehun-ah?” tanyaku padanya saat aku telah berada beberapa centi meter dengannya mengingatkan akan pertanyaannya yang belum sempat tersampaikan tadi.

“Ah, sudahlah lupakan saja,” jawab namja itu sambil mematikan putung rokok yang dipegangnya. “Sepertinya sudah terlalu larut, sebaiknya kita pulang saja,” tambahnya lagi.

Aku bingung terhadap perubahan sikap namja ini, sepertinya tadi ia ingin mengatakan hal yang penting, tapi sekarang malah menyuruhku untuk melupakan hal tersebut. Tapi sudahlah aku juga tak ingin memperpanjang masalah ini, tubuhku juga lelah dan butuh istirahat.

Lirih suara John Mayer keluar dari dashboard audi hitam ini menemani perjalananku dan Oh Sehun kembali dari Namsan. Sehun mempercepat laju mobilnya menembus kota Seoul. Sekilas aku meliriknya, matanya tetap terfokus pada jalanan.

“Kenapa?” tanyanya tiba-tiba.

Aku hanya tersenyum dan menggeleng. “Tidak.. oh ya Sehun, kau sudah bertemu dengan siapa saja sejak kau kembali? Si kembar? Sahabatmu dulu yang berambut panjang itu ehmm.. Taehyun? Apa kau sudah bertemu mereka?” tanyaku padanya, sekedar berbasa-basi sebenarnya. Entah mengapa aku selalu tak tahan jika terlalu lama bersunyi-sunyi ria dengan seseorang. Terlebih lagi orang itu adalah Oh Sehun. Entah mengapa aku suka sekali mendengar suaranya. Berat, tapi masih ada kesan kekanakan didalamnya.

“Tidak, aku belum menemui siapa-siapa selain dirimu. Aku masih belum sempat, masih banyak pekerjaan kantor yang menunggu. Lagipula aku kehilangan kontak mereka saat berada di Jepang,” jawabnya setelah membelokkan mobilnya memasuki kompleks perumahan tempat tinggalku.

“Oh…” jawabku ringan.

“Kau masih bersama mereka, Sahabat-sahabatmu?” tanya sehun sambari trus menyetir.

“Ehm. Aku dan Si Kembar masih terus bersama. Kami satu universitas. Namjoon di pendidikan dokter. Aku dan Jongin di seni terapan. Soojung melanjutkan studinya di UCLA..”

“Lalu Jinri?” Sehun menyela.

“Jinri… Aku tak tahu tepatnya kini dia berada dimana, tapi aku dengar dia ke Jepang setelah lulus.”

“Benarkah? Tapi mengapa aku tak pernah bertemu dengan dia? Ah, sudahlah… Jjjahh kita sudah sampai,” ujar Sehun. Dia melambatkan laju mobilnya, kemudian berhenti persis di depan rumah berpagar putih, rumahku. “Kenapa tampak sepi sekali?” tanya sehun saat aku berpaling untuk melepas sabuk pengaman.

“Omma dan Appa ada di Venice, sedang melakukan perjalan bisnis.”

“Kau sendirian? Bagaimana kalau..”

“Tidak tidak, aku bersama bibi Song. Kau tak usah khawatir.”

“Baiklah kalau begitu. Ehm.. Hayoung-ah, terima kasih telah menemaniku hari ini,” bibirnya tertarik ke kanan dan ke kiri, mengembangkan sebuah senyuman. Secara otomatis hal itu menjadi sensor untukku mengembangkan senyum yang sama. Dan, ups! Rupanya kupu-kupu di perutku mulai berulah lagi.

Mobil itu kini sudah menghilang dibalik gelapnya malam. Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah. Sepi selalu seperti itu keadaan rumah ini. Bibi Song mungkin sudah tertidur pulas. Aku melanjutkan langkahku menuju ruang pribadiku. Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur, meletakkan sejenak penat yang sedari tadi menggelayut. Sejenak kilasan memori yang terjadi hari ini terlintas di pikiranku. Oh Sehun, namja itu. Bagaimana cara dia tersenyum, cara dia bicara kini menari-nari di pikiranku. Tak seharusnya hal itu berada di pikiranku saat ini. terlebih lagi aku sudah mempunyai kekasih. Kulihat di atas nakas tempat tidurku ada kotak musik pemberian Sehun. Tanpa kusadari tanganku mengambil benda itu dan memutar tuasnya. Kini balerina kecil yang ada di di tengah kotak itu berputar-putar sambil diiringi sebuah lagu klasik yang terdengar merdu. Mendengarnya membuatku merasa lebih tenang.

Seperti janji ku tempo hari, hari ini aku menemui Namjoon dan Jongin di apartemen mereka. Dan sekarang aku sedang menyandarkan badan di sofa ruang keluarga mereka. Dengan semangkuk popcorn buatan rumah aku menganti channel tiap dua detik sekali. Malas rasanya, tak ada acara menarik untuk dilihat. Berkumpul bersam di ruang keluarga seperti ini adalah kebiasaan yang sering kita lakukan. Jika tidak ada acara untuk hangout, aku, Soojung, dan si kembar Jongin-Namjoon lebih suka berkumpul dan bersantai di salah satu ruang keluarga rumah kami dengan memutar film secara marathon. Meskipun Soojung kini tinggal jauh dari kami tapi aku dan si kembar masih saja mempertahankan tradisi ini.

“Ya ya, Hayoung-ah, jangan mengganti channel terus-menerus seperti itu. Pilih saja salah satu yang ingin kau tonton. Aku tak bisa menikmati acaranya jika kau mengganti-gantinya terus seperti itu,” gerutu Jongin karena aku terus saja menekan tombol remote dan mengganti channel tv.

“Tidak ada yang bagus Jongin,” sahutku asal dan masih saja mengganti channelnya.

“Bagaimana kita nonton dvd saja? Harry Potter?” ujar Jongin memberikan ide.

“Kita sudah menontonya minggu lalu,” kini Namjoon ikut menyahut. Sedari tadi dia sibuk di pantry membuat cokelat hangat untuk kita bertiga. Kini dia menyusulku dan Jongin di ruang keluarga. Dia meletakkan tiga cangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan asap tipis di atas meja kemudian menghempaskan badannya di atas sofa.

“Bagaimana kalau The Lord Of The Rings? Sudah lama kita tak menontonnya?” kini Namjoon ikut memberikan ide.

“Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan pada kalian,” sahutku sambil mematikan televisi dan meletakkan remote-nya diatas meja.

“Aku bertemu seseorang minggu yang lalu..” aku menghela napasku berat.

“Nugu?” respon mereka hampir bersamaan.

“Sehun. Oh Sehun,” jawabku.

Mata mereka membelalak seakan tak percaya dengan apa yang aku katakan. Detik selanjutnya aku menceritakan semua yang aku lakukan bersama Oh Sehun. Bagaimana aku pertama kali bertemu dengannya lagi secara tak sengaja setelah ia bertahun-tahun menghilang. Aku juga menceritakan bagaimana aku pergi ke makam ayahnya dan juga pergi dengannya ke Namsan hingga larut malam. Tentu saja aku juga menceritaka perasaanku setiap kali bersama Oh sehun, aku tak pernah bisa berbohong kepada sahabat-sahabatku ini. Aku menceritakan bagaimana ada kupu-kupu liar yang selalu muncul diperutku saat Sehun tertawa manis di hadapanku.

“Kau pasti masih menyukainya? Tapi bagaimana bisa Hayoung-ah? Itu sudah bertahun-tahun yang lalu?” kata-kata itu terlontar dari bibir Jongin sekejap setelah aku menyelesaikan ceritaku. Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku tak tahu jawabannya. Aku tak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Bodoh.

“Lalu bagaimana dengan Lay Hyung, Kekasihmu? Jangan kau bertindak bodoh dan menyakiti Lay Hyung, Hayoung-ah. Yang ku tahu dia tulus sekali menyanyangimu. Jangan kau sakiti dia dengan perasaan yang kau sendiri saja tak tahu,” kini giliran Namjoon menceramahiku. Aku masih tertunduk, bingung apa yang harus aku lakukan. Yang mereka ucapkan benar aku tak boleh bertindak ceroboh hingga nantinya melukai orang yang menyayangiku. Tapi… kenapa aku merasa tak rela jika nantinya Sehun pergi lagi. Apa aku egois?

“Kau benar, Joon-ah , Jjong-ah… Hanya saja aku…”

“Hanya saja apa?”

“Sudahlah… Aku hanya ingin kalian menginggatkanku kalu nantinya aku bertindak bodoh. Jangan sampai aku menyakiti hati seseorang nanti.”

Mendung menggelayuti langit kota Seoul saat aku kembali dari appartement Namjoon. Sialnya aku tak membawa payung terlebih lagi Lay oppa tak bisa menjemputku. Gemuruh petir menjadi background musik yang sangat menyiksa telingaku. Tes.. Tes… akhirnya bulir air hujan mulai turun dan semakin bertambah deras seiring bertambahnya waktu. Oh kenapa hari ini sepayah ini. Setelah diceramahi habis-habisan oleh si kembar Kim perihal Sehun, aku sekarang harus terjebak hujan di halte bus sendirian. Aku menghentak-hentakkan kakiku pada genangan air, bosan menunggu bis yang tak kunjung datang. Ccitt! Sebuah mobil berhenti dihadapanku. Aku mendongakkan kepalaku melihat mobil siapa yang berhenti di hadapanku, berharap orang itu adalah Lay Oppa. Sang pengendara membuka separuh kaca mobilnya. “Masuklah..” ujarnya dari dalam mobil. Ya Tuhan.. Kenapa harus dia, keluhku dalam hati. Sungguh sangat menyiksa. Tapi tak ada pilihan lain aku harus menumpang dengannya jika aku tak mau kuyup atau pun mati beku kedinginan. Dengan terpaksa aku masuk kedalam mobilnya.

“Hai… Lama tak bertemu?” aku hanya tersenyum mendengar sapaan darinya.

-TBC-

Advertisements

3 thoughts on “[S]tupid 3: Thunder

  1. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2) | Unspoken Stories

  2. Pingback: [S]tupid 4: Some | Unspoken Stories

  3. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2) | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s