[S]tupid 4: Some

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-17 || chapter || romance.

 Part 1 || Part 2 || Part 3

yuk

Mendung menggelayuti langit kota Seoul saat aku kembali dari appartement Namjoon. Sialnya aku tak membawa payung terlebih lagi Lay oppa tak bisa menjemputku. Gemuruh petir menjadi background musik yang sangat menyiksa telingaku. Tes.. Tes… akhirnya bulir air hujan mulai turun dan semakin bertambah deras seiring bertambahnya waktu. Oh kenapa hari ini sepayah ini. Setelah diceramahi habis-habisan oleh si kembar Kim perihal Sehun, aku sekarang harus terjebak hujan di halte bus sendirian. Aku menghentak-hentakkan kakiku pada genangan air, bosan menunggu bis yang tak kunjung datang. Ccitt! Sebuah mobil berhenti dihadapanku. Aku mendongakkan kepalaku melihat mobil siapa yang berhenti di hadapanku, berharap orang itu adalah Lay Oppa. Sang pengendara membuka separuh kaca mobilnya. “Masuklah..” ujarnya dari dalam mobil. Ya Tuhan.. Kenapa harus dia, keluhku dalam hati. Sungguh sangat menyiksa. Tapi tak ada pilihan lain aku harus menumpang dengannya jika aku tak mau kuyup atau pun mati beku kedinginan. Dengan terpaksa aku masuk kedalam mobilnya.

Sometimes, I get annoyed without even knowing
But my feelings for you haven’t changed
Maybe I’m the weird one, I thought
As I struggled by myself

“Hai… Lama tak bertemu?” Aku hanya tersenyum mendengar sapaan dari pengendara mobil itu.

“Kau mau kemana biar aku antarkan?” lanjut si pengendara, sambil menyalakan mesin mobil lagi.

“Hm.. terima kasih unnie, apa kau mau ke rumah sakit?” tanyaku pada orang yang kupanggil unnie itu. Dia hanya mengangguk sambil terus berkonsentrasi pada jalanan.

“Kalau begitu antar aku ke rumah sakit juga, aku ingin bertemu lay oppa,” ucapku tegas.

“Kau tidak akan bisa menemuinya, jadwal kita sangat padat hari ini, lebih baik kau kuantar pulang saja,” jawab perempuan yang lebih tua beberapa tahun dariku, Yuri unnie, aku biasa memanggilnya, cantik namun ada sesuatu yang aku tidak suka darinya. Apa itu? Jangan tanya aku karena aku juga tidak tahu. Just because..

Aku tetap bersikukuh untuk diantar kerumah sakit. Entalah aku merasa tidak ingin pulang kerumah, disana sepi, aku tidak suka, lebih baik aku pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan Lay oppa, ada banyak perasaan mengganjal di hatiku yang ingin aku ungkapkan kepadanya, meskipun nantinya aku harus menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya.

Butuh waktu setengah jam dari halte tadi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berjalan cepat menuju ruangan Lay oppa. Tapi ruangan dengan luas 20 meter persegi itu tak berpenghuni. Aku putuskan untuk menunggunya di luar ruangan saja. Meskipun Lay oppa adalah kekasihku namun aku tak berani mengusik ruang pribadinya tanpa mendapatkan ijin terlebih dahulu darinya. Sepuluh menit menunggu akhirnya Lay oppa datang dari arah ruang operasi. Sepertinya dia habis mengoperasi pasien. Wajah tampannya tampak layu dengan lingkaran hitam pada kantung matanya. Dia selalu bekerja keras, hingga melupakan kondisi dirinya sendiri. Aku melambaikan tanganku seraya mengulaskan senyum kepadanya. Dia membalas senyumanku dan berjalan mendekatiku.

“Kenapa kesini?” ucapnya sambil memelukku.

“Memangnya tidak boleh?” balasku sambil berpura-pura marah dan melepaskan pelukannya.

“Boleh saja sayang,” katanya sambil mengusak puncak kepalaku, “tapi ini kan sudah hampir malam lagi pula sekarang hujan deras” tambahnya lagi.

Aku memutar bola mataku, aku bukan anak kecil lagi yang harus pulang saat matahari terbenam kan.  Aku menceritakan pertemuannku dengan Yuri unnie dan betapa malasnya aku untuk pulang kerumah dengan kondisi sepi.

“Baiklah tuan puteri, tapi sekarang kau harus menunggu di dalam karena saya harus memeriksa beberapa pasien, setelah itu kita makan malam, bagaimana?” tanya Lay oppa, aku hanya menganggukkan kepalaku tanda setuju.

Setelah itu Lay pun mengecup puncak kepalaku dan berlalu pergi. Namun aku tidak langsung masuk ke dalam ruangannya tapi malah melangkahkan kakiku ke cafe rumah sakit, memesan dua gelas teh hijau hangat dan dua buah muffin kesukaan Lay oppa. Aku teringat wajahnya yang lelah, teh hijau ini kuharap bisa sedikit merilekskannya.

Kini aku berada di ruang kerja Lay. Ruang 20 meter persegi itu terlihat sangat berrantakan namun tetap bersih. Tumpukan buku-buku dan berkas-berkas yang tidak pada tempatnya yang menjadikan ruang mungil berdinding putih itu terlihat berantakan. Aku meletakkan teh hijau dan dan roti yang tadi aku beli di atas meja kerjanya. Kemudian aku mulai merapikan ruangan itu agar tidak terlalu seperti kapal yang habis dirampok bajak laut. Mengapa dia memasukkan begitu banyak barang pada ruangan sekecil ini, pikirku sambil terus mencoba merapikan ruangan itu. Tiga puluh menit berlalu setidaknya ruangan ini lebih layak disebut sebagai ruangan kerja daripada saat aku memasukinya tadi. Namun tetap saja Lay oppa belum datang, begitu sibukkah pekerjaan yg harus dilakukan seorang dokter? Aku menghempaskan tubuhku di kursi kerja Lay. Wangi maskulin Lay oppa masih tertinggal di sana. Aku memandang meja kerjanya, terdapat beberapa foto disana, ada foto Lay dan keluarga tersanyangnya di China, pasti dia sangat merindukan mereka. Lalu foto kita saat berlibur di musim panas tahun lalu. Di sana juga ada foto Lay oppa dan rekan-rekannya. Wajah mereka tak asing bagiku, aku mengenal beberapa diantaranya. Ada Namjoon sahabat tersayangku, ada juga Changmin oppa dan istrinya Hara, ada juga Yuri unnie di foto itu, tepat berdiri di samping Lay, sangat cantik, mereka terlihat sangat akrab. Ini mungkin yang  membuatku tak suka akan keberadaan Yuri unnie. Yuri unnie bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Lay daripada diriku sendiri, kekasihnya. Meskipun hal itu adalah urusan pekerjaan tapi tetap saja aku cemburu melihat kebersamaan mereka berdua.

Cklek

Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Lay masuk sambil membawa catatan kesehatan pasien-pasiennya.

“Lama ya?” tanyanya sambil tersenyum bodoh.

Aku menggelengkan kepalaku sebagai responku terhadap pertanyaanya. Aku menyodorkan segelas teh hijau dan makanan yang ku beli tadi kepadanya.

“Minumlah kau tampak lelah,” ujar ku padanya. “Mungkin sudah dingin, tapi pasti bisa menghilangkan sedikit lelahmu,” lanjutku padanya.

“Terima kasih tuan puteri,” ucapnya sambil mengusak puncak kepalaku.

Kini senyum di bibirnya tekembang. Ada rasa hangat di hatiku saat melihatnya tersenyum sambil mengusak puncak kepalaku. Aku selalu merindukan moment-moment seperti ini bersama Lay oppa.  Dia bagaikan obat penenang bagiku. Dia selalu saja bisa membuat hatiku tenang.

Setelah menghabiskan makanan dan minuman tadi, kami memutuskan untuk pergi ke restoran favorit kami untuk makan malam yang sesungguhnya. Namun saat akan keluar ada seseorang yang terlebih dahulu membuka pintu ruangan tersebut. Itu Yuri unnie.

“Kalian mau keluar?” tanyanya

“Iya noona, memangnya kenapa?”

“Ah, nanti saja deh aku menghubungimu Lay, Oh ya.. jangan lupa bersiap-siap untuk seminar di Busan lusa.”

Lay hanya mengangguk menanggapi Yuri yang baru saja meninggalkan kami.

“Kau akan pergi ke Busan?” tanyaku.

“Hmm.. untuk beberapa minggu, ada pertemuan dokter dari seluruh rumah sakit cabang, selain itu juga ada seminar yang harus kita hadiri,” jelasnya.

“Lama kah?” tanyaku lagi.

“Mungkin dua sampai tiga minggu,” jawabnya.

Aku hanya menganggukan kepalaku. Tapi pikiran ku sudah berkelana liar. Tiga minggu, dan omma appa baru akan pulang bulan depan, pasti minggu-minggu kedepan sangat sepi dan membosankan, pikirku. Tapi aku tak boleh manja dan menghalangi Lay oppa. Aku tahu kariernya di dunia medis sangat penting. Dia adalah tulang punggung utama keluarganya di China. Aku tak boleh memaksakan kehendakku agar dia tetap berada di Seoul dan membuang-buang waktu bermain bersamaku. Menjadi dokter bedah yang sukses adalah tujuan utama Lay oppa berada di Seoul.

“Kau mau makan malam atau tidak,” ucapnya mengejutkanku sambil menjitak kepalaku kemudian berlalu meninggalkanku yang masih tebengong. Aku mendegar suara kikikkannya karena menahan tawa. Aku mengusap bekas jitakan itu.

“Yah, kau harus mendapat balasannya!! Ya Zhang Yixing!! Tunggu aku,” ucapku sebal sambil terus meneriakkan nama China pria yang telah berhasil mencuri hatiku itu.

*

While tossing and turning alone in an empty room
The TV plays reruns of yesterday’s drama
As I hold my phone that doesn’t ring until I sleep

Sepi. Hari ini adalah hari libur, dan ini sepi. Aku benci sepi. Mungkin jika bukan hari libur aku bisa menyibukkan diri dengan tugas kuliah. Tapi hari ini adalah hari libur. Tidak ada tugas yang harus dikerjakan. Lebih tepatnya tidak ada apapun yang bisa aku lakukan. Aku menyalakan televisi di hadapanku, menggantinya setiap dua detik . Namun tetap saja acara yang diputar  adalah rerun dari drama yang membosankan. Sepertinya mereka juga ingin liburan dan sedikit mengabaikan pemirsanya yang juga ingin mendapatkan hiburan yang layak. Aku mengechek ponselku. Tak ada pesan berarti hanya ada pesan dari omma yanga menannyakan kabar. Sudah dua hari aku tidak mendapatkan pesan  dari Lay oppa. Sebelum berangkat ke Busan dia sudah memberitahu bahwa jadwalnya nanti akan sangat padat dan mungkin tidak bisa selalu menghubungiku. Dan sebagai kekasih yang baik, meskipun ada rasa rindu dalam diriku tapi aku tak mau mengusik konsentrasi Lay oppa yang saat ini tertuju pada pekerjaannya.

Aku sungguh ingin keluar dari rumah yang sepi ini. Namun sayanngnya mereka yang ku sebut sahabat juga berada pada kondisi super sibuk. Jongin sedang melakukan tour dengan band indie-nya. Namjoon jangan ditanya, akibat banyak dokter yang mengikuti acara di Busan, maka kini beberapa pekerjaan mereka menjadi tanggung jawabnya. dan Soojung hanya kan pulang saat ada libur panjang. Aku sangat merindukan Soojung, sudah lama kami tidak bertemu. Meskipun kami sering bertukar email namun itu tidak cukup. Aku merindukan gaya centilnya saat berbicara. Ada satu nama lagi. Ada satu nama lagi yang mungkin bisa menemaniku melepas sepi ini.Tapi aku takut untuk menghubunginya. Aku takut perasaan liar itu muncul kembali. Tapi rasa sepi dan bosan ini sudah tak bisa aku tahan. Haruskah aku menghubunginya? Oh Sehun, haruskah aku menghubungi lelaki itu?

*

These days, it feels like you’re mine, it seems like you’re mine but not
It feels like I’m yours, it seems like I’m yours but not
The more I think about it, I get more curious about your real feelings

Aku menelfonnya. Aku menghubunginya. Entah aku akan menyesal atu tidak, biarkan waktu yang nanti menjawabnya. Yang terpenting sekarang aku bisa melepas rasa sepiku. Kita sekarang berada di taman bermain. Sudah lama sekali aku tidak pergi ke tempat seperti ini. Naik biang lala, bermain sepuasnya, tertawa dengan bahagia, sungguh hari yang meyenangkan.

“Kau tidak lapar?” tanyaku pada Oh Sehun.

“Sedikit, kau mau makan?” timpalnya

Cotton candy bagaimana, call?” tanyaku lagi

okay, call,” jawabnya singkat.

“Yang terakhir sampai harus bayar,” kataku seraya bergegas berlari meninggalkan Oh Sehun.

Setelah mengahabiskan permen kapas yang tadi kita beli. Sekarang kita berjalan kaki menuju halte untuk kembali pulang. Kita bukan lagi anak-anak yang mempunyai energi lebih untuk sekedar bermain. Faktor usia mulai memberikan dampaknya.

“Ceritakan padaku bagaimana kehidupanmu di Jepang, ku dengar hidup di Jepang sangat menarik, Harajuku, Ramen, Sakura, hmm pasti menyenangkan?” tanyaku ingin tahu sambil terus berjalan dan menikamti udara sore yang menyegarkan.

“Hmm… kehidupanku tidaklah semenyenangkan itu.”

“Oh Ayolah.., ceritakan padaku tentang kekasihmu itu. Aku ingin tahu seperti apa dia, hingga mau menjadikan orang sepertimu kekasihnya?” tanyaku sambil menggodanya. Hahaha..

“Memangnya aku ini orang seprti apa. Cck! Baiklah. Hmm.. Naomi, dia tidak cantik, tapi dia mempunyai sesuatu yang lain. Kau akan bisa melihat cahaya di matanya. Surai panjangnya akan selalu tergerai indah, menari meliuk bersama angin. Dia pandai memasak dan bernyanyi. Masakannya sangat enak. Aku suka sekali dengan ramen buatannya. Kami bertemu saat aku pertama kali pindah ke Osaka. Gadis lugu yang hampir menangis karena kucingnya tidak bisa turun dari atas pohon maple. Bodoh. Hahaha. Dia adalah satu-satunya temanku saat berada di Jepang. Satu-satunya orang yang lebih bahagia saat aku bahagia dan tidak meninggalkanku saat aku terpuruk. Aku terlalu fokus pada kuliah dan perkerjaanku agar bisa membantu hyung secepatnya, sehingga aku tak memiliki banyak teman saat berada di sana. Sayangnya Tuhan lebih menyayanginya daripada diriku. Dan yah.. sekarang dia berada di sana di sisi Tuhan dan  aku tak perlu khawatir karena Tuhan lah yang menjaganya di sana.” jelas Suhun kepadaku. Ada semburat kesedihan di matanya. Tapi hanya sebentar. Kini dia berbalik menatapku, sambil terus berjalan meyusuri jalan raya yang cukup ramai ini. “Sekarang giliranku bertanya,” kata Oh Sehun “Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan hal ini padamu, tapi tak ada waktu yang tepat. Mungkin ini saatnya. Ehm…Park Hayoung, apakah itu kau, gadis dengan gaun red velvet yang berdansa di pesta topeng pada malam kelulusan kita? Apakah benar itu kau Hayoung-ah? Aku hanya ingin tahu. Kalau benar itu kau, maka aku sangat berterima kasih karena kau lah yang mencuri first kissku Hayoung-a..”

Aku berhenti mendadak. Tubuhku seakan membeku mendengar perkataanya barusan. Lelaki di balik topeng itu, my secret ice prince, seorang pemuda yang begitu mempesona dan mengajakku berdansa hingga larut malam saat pesta kelulusan, dia adalah Oh Sehun. Tidak mungkin. Sekarang tubuhku terasa lemas. Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tanganku dengan cepat dan kuat..

CCCCIIIIIITTT!!!

“Hai nona kalau berjalan jangan melamun!!!” aku mendengar pengendara motor itu memaki dengan kejam tapi aku menghiraukannya karena sekarang jantungku sedang berdegub kencang. Saking kencangnya mungkin jantung ini akan keluar dari tubuhku. Bukan, bukan karena aku hampir saja tertabrak motor, tapi ini karena aku berada di pelukan Oh Sehun. Erat. Dan astaga!! bibir kita saling menyentuh. Mungkin aku akan pingsan sekarang.

-TBC-

Oh Sehun

005ArZ0Ejw1ejxym2oewyj30dw0ku441.jpg

Park Hayoung

b93a8b1c102ba34359daaece2a851c7a

Lay

tumblr_mxebrjhDG51s36084o1_500

Naomi Haibara
e27cea1bab3ce5dd1530515c4755c253

Advertisements

2 thoughts on “[S]tupid 4: Some

  1. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2) | Unspoken Stories

  2. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2) | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s