하루만 : A Fool for Love

  • Length: oneshoot
  • Genre:  romance, friendship
  • Rating:  PG +17
  • Cast: Shin Hyejung(OC), Park Jimin(Jimin BTS), Min Yoongi (Suga BTS), Kwon Juni (OC)
  • Disclaimer: I just own the storyline. Dont be a silent reader.

Untitled-1 copy

“Ah bukankah ini punya Hyejung? Bagaimana dia bisa melupakannya? Bisa-bisa dia kehujanan ditengah jalan..” ucap pria tampan yang dianugrahi suara serak oleh Tuhan, dia melongok ke luar kaca jendela cafe, langit sudah kelabu, pasti sebentar lagi rintik itu akan turun.

“Biar aku saja Hyung yang mengejar Hyejung noona, lagi pula aku juga ingin pulang sepertinya bahuku sakit lagi setelah latihan dance tadi, aku ingin istirahat di dorm saja,” tawar pria lain yang ada di kafe itu. Dia lebih muda dari yang diajak bicara, namun tak kalah tampan, apalagi kalu dia telah menampikan puppy eyes miliknya. “Kau disini saja, nikmati waktu senggang ini selagi bisa,”  yang lebih muda menyarankan sambil tersenyum penuh arti kepada pria yang lebih tua.

“Terserah kau sajalah,” pemilik suara serak itu menjawab. “Kau tak apakan bila kita hanya melanjutkan makan siang ini berdua Juni-ah?” kini pria suara serak itu menatap gadis mungil yang ada di hadapannya. Si gadis hanya mengangguk, masih asik dengan santapan yang ada dihadapannya.

“Lebih baik kau bergegas Jimin-ah, kurasa Hyejung eonni belum terlalu jauh. Sepertinya hujan juga akan segera turun.” Si gadis yang tadi hanya sibuk dengan tuna sandwich kesayangannya kini angkat bicara.

“Baiklah aku pergi sekarang, Yoongi hyung, Juni-ah have fun..Bye~ing..” Pria bernama dengan puppy eyes yang akrab di sapa Jimin tersebut pun meninggalkan sepasang manusia yang semenjak tadi mengahabiskan waktu makan siang bersamanya. Kau harus berterimakasih padaku hyung, kalau tidak mana mungkin kau bisa punya waktu berduaan dengan Juni kesayanganmu itu, kkk kau harus membayarnya lain kali, ucap Jimin dalam hati sambil bergegas meninggalkan kafe.

*

Gadis itu berjalan cepat menembus hiruk pikuk Dongdaemun. Rintik kecil dari langit tak menghalangi langkahnya. Ia merapatkan coat hasil rancangan desainer terkenal yang kini dipakainya, mencoba menghalangi angin yang ingin menggoda tubuhnya. Wajahnya cantik, namun kini tertutup mendung di matanya. Ia mengusap air mata yang ingin turun di pipinya, menegarkan lagi langkahnya. Ia tak boleh menangis hanya karena hal sepele seperti ini.

“Noona…” seseorang menyentuh pundak gadis itu, nafasnya tersengal, sangat kentara bahwa dia telah membakar beberapa kalori hanya untuk mengejar gadis ini. Sang gadis hanya diam dan menundukan kepalanya.

“Noona, ini… payungmu tertinggal di cafe,” ucap si pria yang tadi menghentikan langkahnya. Masih tak mendapat respon, akhirnya si pria dengan puppy eyes itu membalikkan badan lawan bicaranya.

“Hyejung noona, ini…” dia menghentikan kalimatnya.

Noona… wae?” kini pria yang akrab dipanggil Jimin itu pun balik bertanya. Khawatir.

“Aku tidak apa Jimin-ah, pergilah, gumawo telah membawakan payungku,” ucap Hyejung sambil mengambil payungnya dari genggaman Jimin, kemudian di pergi meninggalkannya, membiarkan dirinya terkena air hujan tanpa membuka payung yang dibawanya.

Jimin bergegas menyusul Hyejung lagi. Pasti ada yang tidak beres dengan gadis itu pikirnya. Dia datang ke cafe tempat mereka bertemu dengan senyum mengembang dari telinga ke telinga. Kemudian pergi tiba-tiba dengan wajah murung seperti ini.

“Noona.. tunggu,” Jimin membalik tubuh Hyejung lagi setelah ia dapat menyusul gadis yang dua tahun lebih tua darinya itu.

“Dengar, mungkin teman-temanku memanggilku pabo, tapi aku tidak bodoh, aku bisa membedakan mana tangisan mana air mata, Noona wae? Ada apa denganmu?” ucap Jimin dengan sedikit penekanan di nada suaranya.

Ia kesal dengan apa yang diperbuat gadis di hadapannya ini. Hyejung selalu saja begini, menyendiri dan diam saat ia mempunyai masalah, padahal Jimin yakin masalah akan terasa lebih ringan jika kau membaginya.

Just leave me alone Jimin-ah,” Hyejung berbalik ingin meninggalkannya lagi.

“Ya Shin Hyejung, sampai kapan kau akan begini?” teriak Jimin untuk menghentikan Hyejung. Sekarang pria itu berada di hadapan Hyejung lagi dan menggenggam tangannya.

“Sampai kapan kau begini terus?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara lebih lembut. Si gadis hanya mengangkat wajahnya, namun tak satupun kata keluar dari bibirnya. Ada kilat tak suka di matanya.

“Ya Park Jimin, jangan mencampuri urusanku. Kau masih an-.”

“Anak-anak?” sela Jimin. “Sampai kapan kau menganggapku anak-anak? Jangan karena aku lebih muda darimu hingga kau masih menganggapku anak-anak. Aku sudah memasuki usia legal, kau ingat?!”

“Lepaskan aku Park Jimin,” ucap Hyejung sambil meronta ingin melepaskan tangannya dari Jimin.

Andwe, ttara wa!” Kini Jimin menarik dan memaksa gadis itu untuk mengikuti langkahnya, meskipun si gadis terus saja memberontak namun Jimin tak akan melepaskan gadis itu lagi.

*

Hyejung memperhatikan sekelilingnya. Kini dia ada di sebuah jjimjilbang, mengganti coat berharganya dengan baju khas tempat ini. Rambutnya yang tadi panjang tergerai kini terbungkus oleh sebuah handuk. Ia menatap pria yang ada disampingya dengan penuh tanda tanya. Seakan mengerti arti pandangan Hyejung akhirmya Jimin menjelaskan kenapa dia membawanya ketempat ini.

“Badanmu basah dan penampilanmu acak-acakan, bisa-bisa aku dibunuh menejer hyung jika dia tau stylish favoritnya pulang dengan keadaan seperti itu setelah ku ajak makan siang.”

Hyejung hanya memutar bola matanya setelah mendengarkan penjelasan Jimin.

“Lagi pula diluar hujan badai, kita tidak mungkin pulang dengan cuaca seperti itu,” lanjut Jimin.

Hyejung masih diam enggan membalas perkataan Jimin. Setelah meminum sedikit teh hijau yang ada di hadapannya, kini gadis itu angkat bicara, “pergi ketempat seperti ini, bagaimana kalau fansmu mengenalimu, bodoh.”

“Lihat lah sekelilingmu noona, tempat ini hanya ahjumma dan ahjussi saja, mungkin hanya kita orang yang berumur 20 tahunan yang ada disini,” ucap Jimin sambil meregangkan badannya, kemudian merebahkannya dilantai yang terasa hangat. Hyejung hanya bisa menghela nafas dan memutar matanya lagi mendengar ucapan Jimin.

“Kau benar-benar merusak mood-ku ya Shin Hyejung-ssi,” ucap Jimin masih dengan badan terbaring di lantai dan mata terpejam.

“Awalnya aku hanya ingin menghabiskan waktu libur yang kudapat bersamamu, Yoongi hyung, dan Juni. Aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang bisa bersenang-senang dengan teman-temannya. Kau tahu kadang aku merasa jenuh dengan ini semua, menjadi sempurna dihadapan banyak orang. Aku jenuh noona, kau tahu itu, begitu juga dengan Yoongi hyung dan Juni. Kalian orang yang paling dekat denganku. Aku bahkan rela berepot ria melakukan penyamaran ini hanya karena aku ingin sedikit menjadi manusia dan bersenang-senang dengan teman terbaikku. Lalu BAMM.. kau menghancurkannya dengan adegan dramamu tadi. Wae? Kau kenapa?” kini Jimin bangkit dari posisi tidurnya dan memandang gadis lawan bicaranya itu.

“Maaf…” hanya itu yang terlontar dari bibir Hyejung.

“Kau tak perlu meminta maaf, hanya ceritakan padaku kau kenapa? Mengapa kau bersikap seperti ini. Ini bukan seperti Shin Hyejung yang kukenal,” kata Jimin tegas namun ada semburat kasih sayang yang tersebunyi dari nada bicaranya.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bertidak seperti ini. Bodoh. It’s just out of my control,” ucap Hyejung sambil menundukkan kepalanya.

“Karena Yoongi hyung ya?” tanya Jimin sambil memperhatikan mata gadis cantik yang ada di hadapannya itu.  Hyejung mengangkat wajahnya dan berbalik menatap Jimin dengan penuh tanda tanya.

Wae? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu,” tanya Hyejung menyelidik.

“Oh ayolah noona, aku sudah megenalmu sebelum aku menjadi trainee, aku bisa tahu itu dari cara kau melihatnya,” jawab Jimin.

Kini dia meneguk teh hijau di hadapannya, berdebat dengan Shin Hyejung selalu membuatnya kehilangan kata-kata.  Hyejung tersenyum miris, mengkasihani dirinya sendiri. Ada orang yang mengetahui perasaannya hanya karena melihat matanya, namun pria yang diharapkan mengerti rasa itu bahkan tak menyadarinya.

I’m like a fool, right?” tanya Hyejung pada Jimin, tapi mengapa hal itu seperti dia mengolok dirinya sendiri yang bodoh.

“Noona ya.. Jatuh cinta memang membuat otak manusia bekerja lebih lambat,” seru Jimin.

“Ya, kau tahu apa anak kecil?” kata Hyejung menanggapi kata sok bijak pria yang lebih muda di hadapannya itu.

“Noona, berhentilah memanggilku anak kecil, I’m not a child anymore,” balas Jimin, matanya menyala penuh tanda keseriusan.

Ah, Arrasseo arrasseo…” kata Hyejung sambil mencubit pipi Jimin gemas. “Anyway, terima kasih telah menghiburku, gumawo~” kata Hyejung lagi kini sambil menggusak rambut Jimin.

Ani, aku tidak menghiburmu tadi. Aku hanya bertanya padamu,” ucap Jimin sambil menghentikan tangan Hyejung yang masih menggusak rambutnya.

“Noona ya… apakah kau sangat menyukai Yoongi hyung?” tanya Jimin, kini dia terlihat seperti vampire yang ingin menyantap mangsanya, kemana perginya Jimin ‘the puppy eyes boy’ tadi.

“Eh?” yang diajak bicara malah terbengong tak mengerti arah pertanyaan Jimin.

“Apakah kau sangat menyukai Yoongi hyung?” tanya Jimin lagi.

Wae??… ya.. ya.. Park Jimin, apa yang mau kau lakukan?!!” tanya Hyejung sontak. Tanggannya kini mencoba menghentikan Jimin yang mulai mendekatkan wajahnya ke arah Hyejung.

“Entah.. Mungkin menghapus Yoongi hyung dari hatimu,” jawab Jimin enteng dan masih terus mendekatankan wajahnya ke arah Hyejung, ke arah cerry lips gadis itu.

“Ya Park Jimin! Apa yang kau lakummphh…”

—-

P.S. :

jjimjilbang = sauna khas korea

Advertisements

3 thoughts on “하루만 : A Fool for Love

  1. Pingback: Sexy Aniya! | Unspoken Stories

  2. Pingback: 하루만 : Secret in My Heart | Unspoken Stories

  3. Pingback: 하루만 : Heartbreak Girl | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s