Hoon: Rain

9
Hujan pagi ini mengalunkan deting-denting nada, membuatku terjaga dari mimpi yang entah apa. Sepertinya itu tentangmu yang tak dapat kugenggam lagi.

Hujan pagi ini, ahh… rasanya aku harus berterima kasih pada hujan pagi ini akan bau petrichor yang khas. Terima kasih pada petrichor yang membuatku tenang meski tanpamu..

Entah kenapa hujan pagi ini menghantarkan ingatanku pada masa itu, dimana masalah yang ada hanya PR matematika yang belum dikerjakan..

Kuputar musik dari ponselku, alunan musiknya menyatu dengan rintik-rintik hujan yang menggoda menggetarkan gendang telinga.

biga oneun jiteun saek seoul geu wie

(The thick color of a rainy day in Seoul)

…dendang mereka, ah tidak, tidak hanya Seoul yang diselimuti mendung, tapi di sini juga, Busan tempat yang selalu kau ingat akan sinar mataharinya yang menyengat..

jeo biga geuchyeo goin mul wie bichyeojin

(The rain stops and the reflection in the puddle)

Benar rupanya hujan telah berakhir,

tapi rasanya masih ada rasa yang tertingal disini, sama seperti bulir-bulir yang bergelayut di dahan yang sendu

meski hujan telah usai, meski mendung telah berlalu, perasaan aneh itu tetap tinggal. Seperti menggelitikku untuk bertanya, ‘Hai, Hoon? Hanya ingin bertanya bagaimana kabarmu disana?’

Advertisements

4 thoughts on “Hoon: Rain

  1. Pingback: Hoon: Agony | Unspoken Stories

  2. Pingback: Hoon: Empty | Unspoken Stories

  3. Pingback: Hoon: Agony – Unspoken Stories

  4. Pingback: Hoon: Another Hoon – Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s