[S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2)

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-17 || chapter || romance

Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4

tumblr_n7dh7h6Vad1tewiuno4_500

My heart hurts

What do I say first? I can’t think

Hayoung POV

Kata orang, di jari kelingking setiap manusia terdapat benang merah tak kasat mata yang menghubungkanmu dengan jodohmu. Benang itu bisa sangat panjang dan dua orang yang benang merahnya saling terhubung bisa saja berada di tempat yang berjauhan. Benang itu pun bisa saja sangat kusut, namun takkan ada yang bisa memutuskan benang itu. Aku sangat ingin tahu dengan siapa benang merahku terhubung.

Semenjak insiden ciuman.tak.sengaja–yang aku pikir cukup memalukan– Oh Sehun terus saja menghantui pikiranku. Aku ingin mengeyahkannya barang sekali saja, tapi aku tak bisa. Aku pikir aku mulai tak waras. Yang seharusnya ada dipikiranku itu orangtuaku dan kekasihku yang sedang pergi jauh, atau sebaiknya ujian akhirku yang sebentar lagi akan datang, bukannya namja bodoh Oh Sehun. Aku menghela nafas dalam-dalam, heran dengan pikiranku sendiri.

Senja mulai menyapa langit kota Seoul saat bunyi notifikasi dari ponselku terdengar, menandakan ada pesan masuk. Aku meletakkan segelas latte yang baru saja aku buat diatas meja pantry.  Sebagai gantinya kau ambil ponsel yang tadi ada disana. Sebuah pesan dari line Oh Sehun. Aku menghela nafas lagi dan akhirnya membuka pesan itu dan membacanya

Mengganggu? Tulisnya disana. Aku menggerakkan jari-jariku menuliskan jawaban untuknya.
Nope, why? Balasku.
Tidak, hanya ingin memeberi tahu besok siang aku harus kembali ke Osaka.
Secepat itu? Kau akan kembali ke Seoul lagi kan?
Aku tidak tahu.

Aku tak membalas lagi pesan Sehun. Kuletakkan  ponselku di sebelah gelas latte yang mulai mendingin karena sengaja kuabaikan. Niatku untuk menyesap latte manis nan hangat sudah hilang. Ada sesak  yang tak kukenali merayap di paru-paruku. Rasa ini seperti deja vu. Atau aku memang pernah merasakannya? Ah, entahlah. Aku meninggalkan pantry kembali ke kamarku, berdiam diri disana tanpa menyalakan lampu meski langit sudah menggelap.  Aku terus bertanya pada diriku mengapa aku seperti ini, tapi tetap saja tak ada jawaban disana. Yang ada hanya sesak. Mungkin memang aku manusia yang bodoh. Kau bodoh Park Hayoung, olokku pada diri sendiri.

Aku bangun dari tidur menjelang siang dan itu pun karena sinar matahari yang menusuk ke mataku. Aku memang membiarkan tirai kamarku terbuka tadi malam, lebih tepatnya aku tak peduli dengan kondisi kamarku saat itu dan terlalu sibuk dengan pikiran yang sebenarnya tak penting yang membawa moodku drop bahkan sampai saat ini. Sudah pukul  9  rupanya, batinku setelah melihat jam beker di atas nakas sebelah tempat tidurku. Aku mengikat rambutku tinggi bangkit dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi. Aku langsung menuju pantry. Ada susu coklat hangat, toast dan sunny side up diatas meja pantry. Aku melihat ada bibi Song sedang membersihkan sisi lain pantry.

“Pagi Bi,” aku mengucapkan salam pada wanita paruh baya yang lebih sering kujumpai di rumah ini dibandingkan dengan orangtuaku sendiri.

“Selamat pagi nona,” balasnya sambil menghentikan sejenak kegiatannya dan menoleh serta tersenyum kepadaku.

“Tidak ada kimchi?” tanya ku pada nya. Aku suka sekali kimchi buatan bibi Song. Dan bilang aku aneh makan toast dengan kimchi. Tapi percayalah padaku  kimchi buatan bibi Song cocok dimakan dengan apa saja. Bibi Song kemudian mengeluarkan sebuah wadah berisi kimchi dari dalam lemari es. Kemudian dia menghidangkannya di sebuah piring kecil dan meletakkanya di hadapanku. Aku pun mencomot beberapa kimchi dengan tanganku. Hmm.. rasanya menyegarkan sekali, meningkatkan selera makanku pagi itu.

“Oh iya nona, ini ponsel nona Hayoung tertinggal di pantry tadi malam,” ucap bibi Song sambil memberikan ponsel itu kepadaku. “Sepertinya banyak yang menelepon nona, dari tadi subuh ponsel nona terus berbunyi,” tambahnya lagi. Aku menghentikan sejenak acara sarapan pagiku dan langsung memeriksa ponselku. Banyak sekali notifikasi dari Namjun, 23 panggilan tak terjawab.  Heol, ada apa dengan anak itu pikirku. Kemudian aku pun men-dial nomor telepon Namjun, mencari tahu ada apa dengan dia.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Hayoung-a, kamu kemana saja? Heol! Kenapa gak angkat telfonku?

Easy Namjun. Ponselku tertinggal di pantry tadi malam ada apa sebenarnya? Kau tak punya kerjaan apa menghubungiku berkali-kali, atau kau rindu pada ku ya namjuuniee~”

“Bukan waktunya bercanda Park Hayoung. Kau punya contact keluarga Oh Sehun?”

“Tidak, kenapa? Tapi dia bilang akan kembali ke Jepang hari ini.”

“Kalau begini aku harus bagaimana? Hhmm..  ya Park Hayoung, begini, tadi malam saat aku berjaga  di rumah sakit ada kecelakaan beruntun terjadi, dan.. Oh Sehun salah satu korbannya. Aku harus menghubungi keluarganya karena, yah kau tahu dia masih belum sadarkan diri sampai saat ini.”

“Jangan bercanda Kim Namjun. Ini tidak lucu,” ucapku sambil menaikkan nada bicara.

“Aku juga tidak sedang bercanda Park Hayoung,” balas Namjun tegas. “Sebaiknya kau ke sini memeriksanya sendiri dan bantu aku mencari contact keluarganya.” Kini Namjun mengakhiri sambungan telepon itu.

Aku berlari menuju kamarku, mengganti baju yang lebih layak, menyambar kunci mobil kemudian bergegas pergi ke rumah sakit, meninggalkan sarapan pagiku yang masih tersisa separo.

*

You keep making me has bad thoughts

Is not a good heart to me.  It’s such a bad heart

Aku melihatnya terbaring di ranjang sempit khas rumah sakit. Dia tidur, tak berdaya. Di sekeliling tubuhnya terdapat banyak selang-selang dan kabel-kabel yang menghubungkan dirinya dengan alat untuk menopang hidupnya. Kau bilang akan kembali ke Osaka Sehun-a, tapi kenapa jadi seperti ini, ucapku dalam hati menatap wajah namja yang tidur di hadapanku saat ini.

Oh sehun belum sadarkan diri dan masih terbaring di rumah sakit saat aku tiba di rumah sakit. Kecelakaan yang menimpanya terjadi dini hari tadi saat ia ingin pergi ke Incheon. Sebuah truk tergelincir dan menabrak lima buah mobil. Salah satunya adalah mobil yang dikendarai temanku, Oh Sehun.

Kini aku menjaganya. Tangannya dingin tergolek lemas. Matanya masih tertutup. Wajahnya yang sudah pucat kini bertambah pucat. Cepat bangun Oh sehun, cepatlah sembuh, kau harus bangun Oh sehun, kau lelaki yang kuat, kau harus bangun, sugestiku dalam hati mencoba meghilangkan kekhawatiran yang kini kurasa.

Sudah hampir petang dan aku masih berjaga di kamar Sehun. Namjun masuk untuk memeriksa keadaannya.

“Bagaimana?”  tanyaku pada Namjun yang sedang memeriksa keadaan Sehun.

“Masih sama,” jawabnya. “Aku sudah bisa menghubungi kakaknya, mungkin dia akan sampai di Korea besok. Kau juga harus beristirahat Hayoung-a. Biar aku yang menjaganya disini,” ucap Namjun lagi.

“Baiklah aku akan pulang. Kabari aku tentang perkembanganya. Apapun itu,” titahku. Namjun menganguk sebagai jawabannya.

*

I don’t like farewells..

Just breaking up with you, I don’t like it, even if I die..

“Jadi bagaimana? Kau bisa mendapatkannya?”

“Tentu saja. Tentu saja, jangan panggil aku Yuri kalau aku tak bisa menaklukkan Yixing. Aku heran, bisa-bisanya dia menjalin hunbungan dengan anak kecil itu. Padahal selama ini aku yang selalu disampingnya, sedangkan anak kecil itu hanya bisa mengacau dan merepotkan Yixing saja.”

“Ya ya ya, kau benar. Tapi kita sekarang harus memberikan file ini kepada direktur. Setelah itu kita harus pulang. Badanku sudah lelah, acara di Busan benar-benar melelahkan.”

“hhmm.. ya kajja!”

Yixing? Lay Oppa?! Apa yang terjadi di Busan?? Ya Tuhan apa lagi ini?? tangisku dalam hati di balik bilik toilet rumah sakit.

***TBC***

Special for you

dr. Kim Namjun

CFl5q-hUIAA6gZX

Advertisements

One thought on “[S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (1/2)

  1. Pingback: [S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2) | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s