하루만 : Secret in My Heart

Shin Hyejung, Park Jimin, Kwon Juni, Min Yoongi

 series || romance, fluff || PG +17

story before: 1. A Fool for Love || 2. Sexy Aniya!

romantic-wedding-photography-bridal-bouquet-outdoor-weddings.original

“Haloo army.. I’m V, hihihihi,”  lelaki tertawa lepas sambil membawa sebuah kamera di tangannya. Kini dia berjalan mengelilingi rest room sambil memfokuskan kamera mencari objek yang menarik hatinya. Kim Taehyung atau yang lebih dikenal dengan nama panggung V sedang merekam aktivitas di belakang panggung sebelum grupnya, BTS, melakukan general rehearsal untuk konser mereka di Los Angeles esok.

“Nah, kalian mau lihat-lihat? Ikuti aku,” ucap Taehyung sambil membawa kamera itu kesana-kemari. “Oke, lihat-lihat! army, ini Yoongi Hyung, huh kenapa dia selalu tidur? Hyung bagaimana perasaanmu? Kita akan konser di LA man!!” tanya Taehyung pada lelaki yang sedang membaringkan diri di atas sofa rest room. Dia mengarahkan kamera yang digenggamnya pada wajah lelaki berambut pirang itu, namun tak ada respon untuknya. Tak mendapat respon yang diingikan, Taehyung lebih mendekatkan badannya pada lelaki itu dan ingin mengulang pertanyaanya, namun dengan cepat sebuah tangan mengambil kamera di tangannya dan mematikan benda itu. Taehyung sontak berdiri tegap ingin melontarkan protes.

“Ya Taehyung ssi, jangan ganggu dia, dia sedang istirahat tau!” omel gadis cantik dengan rambut ikal sebahu yang berada di depan Taehyung.

“Juni ah, you got no jams,” ejek Taehyung.

“Hyungmu belum tidur sejak tadi malam,” seru gadis yang dipanggil Juni itu pada Taehyung sambil mengerucutkan bibirnya, menahan kesal akan ulah Taehyung.

“Uwaah, hebat kau bahkan tahu kalu Yoongi Hyung belum tidur sejak tadi malam,” sindir Taehyung pada Juni

“Sudah lah pergi sana. Kau ganggu saja member yang lain,” kini Juni mendorong tubuh Taehyung untuk menjauh.

“Baiklah-baiklah aku akan pergi,” ucap Taehyung sambil menyingkir dan mencari target selanjutnya untuk.

“Gomawo,” bisik Yoongi sambil tetap memejamkan matanya dan berbaring di atas sofa. Dia terlalu malas menganggapi Taehyung. Lagipula benar yang dikatakan Juni, dirinya belum tidur sejak tadi malam. Mengerjakan musik, apalagi. Hanya itu yang dapat membuatnya tahan terjaga semalam suntuk.

Gwenchana oppa ya, aku meletakkan kopimu di atas meja, lanjutkanlah tidurmu kau masih punya waktu 15 menit untuk berisitrahat,” ucap Juni. Terkadang ia merasa kasihan sekali pada Yoongi, dia harus bekerja ekstra keras agar musiknya dapat diterima di masyarakat, terlebih lagi dia melakukannya pada malam hari. Akibatnya badannya kini semakin kurus, terlalu banyak begadang menurutnya. Himneyo oppa ya… ucap Juni dalam hati, tak berani menyuarakan isi hatinya itu.

*

Kini semua member BTS sedang melakukan rehearsal di atas stage. Mereka tampak mengagumkan. Tarian, nyanyian, rap, semuanya menjadi satu kesatuan yang indah di mata Juni. Bahkan para kru selalu memuji ke professionalan dan kesempurnaan mereka saat di atas panggung. Ia tidak bisa berlama-lama memandang mereka. Dia disini bukan untuk menikmati performa BTS. Tapi dia disini untuk bekerja. Juni pun akhirnya kembali ke belakang stage. Masih banyak perkerjaan yang belum diselesaikan pikirnya.

Juni kembali ke rest room yang  kini terlihat lebih sepi, hanya ada seorang gadis di antara tumpukan pakaian dari lima koper yang terbuka. Tubuh mungil Hyejung nampak tenggelam di antara tumpukan pakaian tersebut.

“Aigoo Juni ah, dari mana saja kau?” tanya Hyejung baru melihat batang hidung Juni.

“Ehm itu.. aku..” ucap Juni gugup mencoba mencari alasan yang tepat agar terhindar dari omelan pedas seniornya itu.

“Ah sudahlah, bantu aku menyiapkan kostum mereka, uh kenapa banyak sekali sih,” keluh Hyejung.

Tanpa banyak bicara kedua gadis itu pun mengerjakan perkejaan mereka, mengeluarkan pakaian dari koper-koper, merapikannya, menyetrikanya, melabeli masing-masing kostum dengan inisial para member, bahkan aksesoris dari ujung kepala hingga sepatu yang mereka pakai harus di labeli dengan initial para member.

“Juni ah, kau melihat ikat pinggang untuk Hoseok?” tanya Hyejung sambil menoleh kesana-kemari mencari ikat pinggang itu.

“Sepertinya tadi masih di dalam koper warna merah,” jawab Juni sambil tetap fokus pada pekerjaannya.

“Benarkah? Sepertinya tadi sudah dikeluarkan dari koper..” ucap Hyejung

“Unnie, apa perlu ku bantu?” tanya Juni seraya berdiri dari tempat duduknya dan mulai mencari ikat pinggang itu.

“Tidak, lanjutkan saja menyetrika kemeja itu, hanya ikat pinggang ini, aku akan mencarinya sendiri,” tolak Hyejung. Juni pun kembali ketempatnya semula dan melanjutkan pekerjaanya. Tiba-tiba saja terdengar bunyi debum keras, seperti orang terjatuh. Juni menolehkan pandangannya. Ia melihat Hyejung tersungkur di atas lantai dengan salah satu kakinya terbelit kabel yang ada di dalam ruangan itu.

“Ah.. Ouch!” Hyejung meringis menahan sakit.

Noona gwenchanayo?” Park Jimin yang sedari tadi berada di ambang pintu pun bergegas mendekati Hyejung.

“Unnie kau tak apa?” tanya Juni panik.

“Aku baik-baik saja kok,” ucap Hyejung namun air mukanya mengisyaratkan kalu dia sedang tak baik-baik saja.

“Tapi sepertinya kakimu terkilir Noona,” seru Jimin tak percaya dengan apa yang dikatakan Hyejung.

“Aku tak apa Park Jimin.. Ah.. aouch,” jawab Hyejung sambil mencoba berdiri, namun ia gagal dan kembali terduduk di atas lantai. Jimin dan Juni pun bertambah khawatir melihatnya.

“Kakimu terkilir Noona ya, kenapa tidak percaya padaku sih. Diam! Jangan bergerak dulu,” ucap Jimin. Kini dia membuka sepatu hak tinggi yang dikenakan Hyejung dan memberikan pijatan ringan pada kaki Hyejung yang terkilir.

“Ah sakit..” Hyejung berteriak menahan sakit saat Jimin memijat kakinya lebih keras. “Maaf Juni, kau bisa menyelesaikannya sisanya sendiri kan?” kata Hyejung dengan wajah penuh rasa bersalah pada Juni.

“It’s Okay tinggal menyusun kemeja dan menemukan ikat pinggang Hoseok oppa,” kata Hyejung menenangkan. Ia lebih khawatir dengan keadaan Hyejung sekarang.

“Setidaknya kau harus ke ruang medis Noona, kuantar ya…” tawar Jimin.

“Tidak, aku bisa sendiri,” tolak Hyejung. Sekarang dirinya mencoba berdiri kemudian berjalan perlahan menyusuri koridor yang sepi ini, dan pergi menuju ruang medis dengan tertatih dan menahan sakit yang teramat sangat.  Kemana sih perginya semua orang pikirnya dalam hati.  Tidak adakah yang mau membantunya pergi ke ruang medis, ucap Hyejung dalam hati, rasanya ia ingin menangis.

“Kenapa keras kepala sekali Shin Hyejung?” tiba-tiba suara familiar itu datang lagi. Hyejung berpikir kenapa selalu orang itu yang muncul disaat-saat seperti ini.

“Ya Park Jimin jangan macam-macam.. atau…” Park Jimin menghentikan langkah Hyejung.

“Atau apa hmm?” kini Jimin berusaha memojokkan Hyejung pada dinding koridor. Gadis ini sangat menggemaskan saat marah, pikir Jimin.

“Ak… aku.. akan berteriak,” seru Hyejung tak mau kalah. Kini ada semburat merah di pipinya. Dia tak suka ini. Jarak dirinya dan Jimin terlalu dekat. Dia tak ingin Park Jimin mendengar degup jantungnya yang bertambah cepat.

“Coba saja,” ucap Jimin enteng sambil mengangkat tubuh Hyejung, mengendongnya ala bridal style.

“Ya turunkan aku..” teriak Hyejung sambil menepuk-tepuk dada Jimin.

“Kakimu akan bengkak jika kau memaksakan berjalan, at this time just believe in me please,” ucap Jimin sambil melangkahkan kakinya menuju ruang medis. Hyejung hanya memejamkan matanya dan berharap hal ini cepat berlalu, dia tidak suka, perutnya akan mulas, terasa seperti digelitik kupu-kupu jika dia berdekatan dengan Park Jimin.

*

Hari mulai gelap saat Juni kembali ke hotel tempat ia menginap. Badannya terasa pegal dan lelah. Pekerjaanya sedikit bertambah karena tadi siang rekannya, Hyejung mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan kakiknya terkilir dan harus pulang untuk beristirahat lebih awal.

“Unnie, Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Juni pada Hyejung saat ia baru selesai mandi dan membersihkan tubuhnya yang sedari tadi terasa lengket di sana- sini.

“Sudah lebih baik kurasa setidaknya aku bisa berjalan, meskipun masih tertatih,” jawab Hyejung santai. Dia berada diatas ranjang, memakai piyama bermotif hati, sambil membaca novel favoritnya. Sebelah kakinya dibalut dengan perban.

“Hmm.. Unnie ya, ada hal yang ingin kutanyakan padamu. Tapi janji kau jangan marah padaku,” kini Juni ikut berbaring diatas ranjang disebelah Hyejung setelah melemparkan handuk basah yang tadi digunakannya untuk mengeringkan rambut ke dalam sebuah basket.

“Apa?? Asal kau tidak menumpahkan soda dalam tas kesayanganku saja, Aku tak akan marah,” jawab Hyejung setengah bercanda.

“Ayolah unnie, aku serius..” rengek Juni.

“Baiklah-baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?” ucap Hyejung sambil meletakkan novel yang tadi dibacanya ke atas nakas disamping tempat tidurnya.

“Begini.. aduh… bagaimana ya.. hmm.. apa kau dan Jimin sebenarnya menjalin hubungan?” tanya Juni penasaran namun ia tak berani menatap lawan bicaranya itu.

“Kau tidak mabuk kan Kwon Juni? Kenapa bertanya seperti itu?” seru Hyejung sedikit kaget dengan pertanyaan yang diungkapkan Juni.

“Sebenarnya setelah kita, aku, kau, Jimin dan Yoongi oppa, keluar bersama tempo lalu sepertinya sikapmu berubah pada Jimin, seperti lebih perhatian tapi kau selalu menghidarinya, aku pikir kau sedang menyukai J i m i n lagipula dia juga terlihat begitu perhatian padamu akhir-akhir ini jadi ku pikir…” Juni mencoba menjelaskan apa yang ada dipikirannya kepada Hyejung.

“Hmm, sangat terlihatkah?” tanya Hyejung pada Juni. Matanya memandang langit-langit kamar hotel yang ditinggalinya saat ini, tak berani menatap Juni. Pipinya terasa panas. Ia malu jika Juni melihat rona merah di wajahnya.

“Jadi benar kau menyukai.. oh astaga..” Juni merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya.

“Entahlah, hanya saja aku tak ingin perasaan ini tumbuh menjadi lebih besar,” ucap Hyejung datar.

“Kenapa? Adakah hal yang salah dengan itu?” tanya Juni lagi semakin penasaran.

“Segalanya. Segalanya salah Juni a. Aku tidak ingin mati muda di tangan fans mereka yang mengamuk. Eww.. Lagipula,menurutku perasaan ini tak layak jika dibandingkan dengan mimpi dan usaha mereka selama ini. Kau tidak tahu kan bagaimana mereka berjuang hingga mereka bisa berada di posisi seperti sekarang ini, dan aku tak ingin merusak itu semua,” jelas Hyejung. Entah mengapa ada perasaan sedih di dalam hati Hyejung setelah ia mengutarakan itu semua.

“Jadi kau tak ingin berkencan dengannya?”

“Hmm.. mungkin tidak, kehidupan idol itu sangat rumit Juni a, penuh dengan titik sensitive, mungkin aku tak akan mampu menerimanya,” kata Hyejung. Dia sendiri pun sebenarnya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Juni barusan.

“Lalu perasaanmu?” tanya Juni lagi. Dia tampak tak sependapat dengan apa yang diutarakan Hyejung tadi.

“Entahlah, mungkin perasaanku akan ku buang saja ke laut, atau kalau tidak aku akan menggorengnya saja, sudahlah Juni ah, ayo kita tidur saja.. aku lelah..” jawab Hyejung asal. Kemudian ia merebahkan badannya dan membalikkan tubuhnya, mencoba memejamkan matanya untuk tidur.

“Jadi aku tak bisa mencintai seorang idol ya?” tanya Juni lirih. Ia menundukkan kepalanya merasa sedih. Kemudian ia juga membalikkan badannya mencoba untuk tidur dan melupakan percakapannya dengan Hyejung barusan. Namun sebuah bunyi notifikasi dari ponselnya mengurungkan niatnya. Dibukannya pesan dari seseorang itu. Seharusnya ia merasa senang dengan pesan itu seperti saat ia menerima pesan yang sama pada malam-malam sebelumnya. Namun mengapa kini membaca pesan itu memberikan rasa sesak di hati Juni. Jadi aku tak bisa mencintai seorang idol, Juni mengulangi pertanyaanya tadi dalam hati saat selesai membaca pesan itu. Ada setitik embun di matanya, bahkan untuk bernafas saja rasanya susah sekali. Dia membaca kembali pesan yang diterimanya yang datang dengan attachment sebuah file mp3.

*

From MY

Jalja?

Bagaimana menurutmu dengan yg ini?

%MY mixtape no.21 “I’m Yours”

*

Maaf Juni, aku tidak bisa memberimu saran, aku tahu kau menyukainya, tapi maaf aku juga bingung dengan perasaanku, dan apa yang harus aku lakukan, semuanya jadi serba salah, pikir Hyejung dalam hati.

*****

special for you :

Shin Hyejung

namgyu2_large

Park Jimin

tumblr_ni21e9qID01sq411to2_1280

Min Suga

bts-suga-bangtan-boys-Favim.com-2451956

Kwon Juni

tumblr_m8jl12aevs1r2uefco1_500

Advertisements

One thought on “하루만 : Secret in My Heart

  1. Pingback: 하루만 : Heartbreak Girl | Unspoken Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s