Nonsense

sunggyu-airport-fashion50

 *2000px-parental_advisory_label-svg

Jae Ah X Sunggyu || NC || Hurt || Ficlet

*

Jangan bilang kalian tidak pernah memikirkan hal itu. Aku yakin setiap orang pasti pernah memikirkan hal itu. Tapi yang nantinya jadi pembeda adalah apa kau benar-benar melakukannya atau tidak.

Aku sempat berpikir untuk melakukan hal itu. Saat semua pikiranku kacau, dan tak ada yang bisa membenahinya aku pernah berpikir untuk melakukan hal itu. Tapi sepertinya aku juga tak diinginkan di sana. Dan dalam sepersekian detik semuanya  berubah. Semua ini gara-gara lelaki berengsek itu.  Mereka bilang aku beruntung dia telah menyelamatkan nyawaku. Tapi, cih.. dia telah merusak segalanya yang sudah aku rencanakan. Aku benci dia. Bahkan sekarang dia selalu saja mengekor kemana pun aku pergi. Aku benar-benar membencinya. Seperti saat ini, dia mengikutiku sejak kita meninggalkan rumah sakit. Aku tak suka akan hal itu, dan akhirnya aku pun berbalik menghadap dirinya, dan memberi peringatan.

“Sampai kapan kau mengikuti ku ahjussi. Aku bahkan tak mengenalmu,” dia terlihat agak kaget saat aku membalikkan badan dan memarahinya. Namun semua ucapanku itu hanya dibalas senyuman oleh nya.

“Kau sudah tau namaku, bagaimana bisa kau tak mengenalku? Lagipula aku takut kau melakukan tindakan bodoh itu lagi,” katanya datar dengan mata yang berseri-seri. Wajahnya tampak lelah, mungkin karena menjagaku semalam di rumah sakit. Itu salahnya, aku tak menyuruhnya untuk melakukan hal itu.

“Apa yang aku lakukan nantinya adalah urusan pribadi dan kau tak berhak mencampurinya,” ucapku tegas. Aku heran kenapa ada manusia seperti dia, suka sekali mencampuri urusan orang lain.

Dia hanya tersenyum. Arrgh! dan itu membuatku kesal. Aku tak peduli kini dia mengikutiku atau tidak. Persetan dengan itu semua. Aku hanya melangkahkan  kakiku cepat-cepat, berharap dia menghilang di belakang sana.

Tapi agaknya keinginanku berlebihan. Memang lelaki sialan itu tak setinggi aktor film atau pemain basket, tapi tetap saja dia lelaki, dan pasti bisa menyusulku dengan langkahnya yang ringan. Kini aku berada di dalam bus. Dan dia, hmm.. duduk tepat di bangku belakangku. Sepertinya dia adalah lelaki yang pantang menyerah. Sempat aku berpikir apa mungkin dia seorang byuntae? mengikutiku kesana-kemari, jujur saja itu sedikit meyeramkan.

Aku sampai di gedung apartemenku. Jangan tanya apa yang dia lakukan, mengikuti ku tentu saja. Aku tak memperdulikannya. langsung saja aku memencet tombol lift dan menuju lantai 18 tempat apartemenku berada. Kami, ralat, aku dan dia kini berada di dalam lift yang sama. Jujur saja, sebenarnya aku tahu dia adalah tetanggaku. Apartemennya hanya berselang dua pintu dari milikku. Tapi aku benar-benar tak mengenal dirinya. Aku hanya tahu namanya Kim Sunggyu, hanya itu. Aku bahkan tak mengetahui apa pekerjaannya, mungkin pekerja kantoran. Dia selalu berangkat saat matahari baru saja terbit dan pulang saat matahari sudah tenggelam. Dan sialnya tengah malam itu dia memergokiku yang akan melompat dari balkon lantai 18. Aku tak tahu harus berterima kasih atau memakinya kala itu.

“Apa kau akan mengikutiku sampai kedalam kamar?” tanya ku kepadanya. kini aku dan dia berada di depan pintu apartemenku. Dia memandangku lama sebelum menjawab pertanyaanku,

“Baiklah aku akn pergi, tapi berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh lagi.”

“Aku sudah dewasa,” bantahku.

“Tapi pikiranmu tidak,” jawabnya. Senyum itu kembali hadir di wajahnya sebelum badannya menghilang di balik pintu apartemennya.

*

“Satu caramel macchiato.”

“Silahkan.”

“Oh, mwoji? kemana dompetku? Ehm.. maaf.” Pelayan kafe itu sepertinya ingin mendengus kesal, namun kode etik pekerjaannya melarangnya melakukan hal itu. walhasil hanya senyum hambar menghiasi wajahnya. Kemudian dia berbalik menghadapku dan menanyai pesananku.

Espresso two shots,” jawabku. “Sekalian bill untuk ahjussi ini.” Lelaki yang mengantri di depanku sontak berbalik dan memekikkan namaku.

“Terima kasih, ngomong-ngomong  itu pilihan kopi yang sangat getir untuk gadis yang manis,” ucapnya lugu.

“Dan caramel macchiato itu terlalu manis untuk lelaki yang sok pahlawan,” balasku tak mau kalah.

Malam itu pikiranku kembali kacau, jadi aku memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar. Mungkin sudah nasib sialku, bukannya menjernihkan pikiran namun aku malah bertemu lelaki itu. Kim Sunggyu.

Kini kami berada di ayunan tempat bermain yang menjadi salah satu fasilitas dari gedung apartemen ini. Langit kota Seoul tak berbintang malam itu. Angin dingin juga berhembus kencang, musim gugur akan segera tiba pikirku. Namun kami hanya terdiam di sana menikamati ayunan dan kopi di tangan kami.

“Jae Ah ssi, apa yang sebenarnya kau pikirkan?” ujarnya memecah keheningan diantara kami.

“Eh? Kenapa kau ingin tahu?” tanyaku kepadanya.

“Entalah, hanya ingin tahu. Aku kira kau adalah orang yang penuh keceriaan, setidaknya sampai aku melihatmu ingin melakukan hal bodoh itu,” jelasnya.

Aku menyeruput kopiku. Pahit.

“Jangan bilang masalah cinta? ” dia tertawa mendegar perkataannya sendiri. Aku menoleh kepadanya tajam. Lelaki ini sangat menyebalkan.

“Jadi benar masalah cinta,” cicitnya takut setelah menyadari arti tatapanku.

“Itu bukan urusanmu ahjussi,” jawabku gusar.

“Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan ahjussi, aku tak setua itu. Dan umur kita tak terlalu berbeda jauh,” ucapnya pura-pura sebal. Ekspresinya sangat imut. Kalau tidak ingat lelaki ini menyebalkan mungkin aku sudah mencubit pipinya.

“Hal itu tetap salah Jae Ah ssi. Kau tahu itu. bertidak seperti itu tidak akan memperbaiki segalanya. Hanya akan menambah kesakitan untuk orang di sekitar mu.” Ucapannya semperti menamparku beribu kali. Saat itu semua begitu menyakitkan bagiku. Dan aku tak bisa berpikir secara jernih.

“Terima kasih… Terima kasih sudah menyelamatkan ku,” ucapku tulus. Aku tak tahu bagaimana jadinya jika Sunggyu ssi tak mencegahku.

“Lain kali jika kau ada masalah datanglah padaku, aku tau kedai es krim enak yang bisa menghilangkan perasaan sedih dan kesal mu.” Aku hanya mengangguk mendengar perkataannya. Dia menjulurkan tangannya untuk mengusak puncak kepalaku. Anehnya aku hanya membiarkannya melakukan hal itu, tanpa mengelak, tanpa menatapnya tajam. Aku membiarkannya melakukan hal itu. Saat aku menatapnya ia hanya tersenyum dan kembali menikmati macchiatonya.

Sungguh aku tidak bisa mendeskripsikan lelaki ini. Malam itu diawal musim gugur yang sangat dingin, aku merasakan hangat dihatiku.


Jae Ah

tumblr_n8v70zoj1F1rbqca8o1_500 tumblr_nldnyjBvEt1tz036mo4_540

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s