[S]TUPID 5: FIGHT THE BAD FEELING (2/2)

wpid-stupid-copy-jpg

[Poster by Hanissi Kim @ HAD]

*

Park Hayoung, Oh Sehun, Lay || PG-17 || chapter || romance

Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5A

******

I don’t like farewells..

Just breaking up with you, I don’t like

it, even if I die..

*

“Jadi bagaimana? Kau bisa mendapatkannya?”

“Tentu saja. Tentu saja, jangan panggil aku Yuri kalau aku tak bisa menaklukan Yixing. Aku heran, bisa-bisanya dia menjalin hunbungan dengan anak kecil itu. Padahal selama ini aku yang selalu disampingnya, sedangkan anak kecil itu hanya bisa mengacau dan merepotkan Yixing saja.”

*

Hayoung POV

Ingatan itu datang lagi. Sudah seminggu sejak aku tak sengaja mendengar perkataan Yuri Unnie saat di rumah sakit. Tapi sampai sekarang aku tidak bisa melupakannya. Bukannya aku tak percaya pada kesetiaan Lay Oppa, namun aku mempunyai kenangan tak mengenakkan tentang perselingkuhan. Terimakasih untuk Yoongi ssi yang telah memberiku kenangan pahit itu. Sampai saat ini hanya Lay Oppa yang bisa mengubur rasa takut itu, tapi nyatanya kini bahkan dia memiliki probabiliti untuk berselingkuh dengan rekan kerjanya di belakangku. Lalu kepada siapa lagi aku harus percaya? Kini aku hanya mengaduk-aduk naengmyon yang ada di hadapanku. Di depanku Lay Oppasedang memakan mie miliknya dengan lahap. Aku ingin membahas hal itu, namun aku tak tahu bagaimana harus memulainya.

“Bagaimana acara di Busan?” tanyaku padanya. Aku sangat ingin mengklarifikasi hal itu.

Good,” jawabnya singkat sambil terus menyeruput mie nya.

“Oh,” seruku. Dalam pikiranku masih percaya tidak percaya apakah Lay Oppabisa melakukan hal sekeji itu.

“Ada yang kau pikirkan chagi?” kini gilirannya bertanya.

Ani, geunyang,” mencoba menutupi apa yang ada dipikiranku.

Ppali meogeo, setelah itu aku antar kau pulang,” ucapnya setelah menyelesaikan makan siangnya.

“Euhm,”  jawabku singkat.

*

Keadaan Oh Sehun belum banyak berubah. Dia masih harus betah berada diatas tempat tidur, gegar otak ringan dan fraktura di tulang keringnya kata Namjun. Tapi setidaknya kini dia sudah sadarkan diri dari koma. Hyungnya sempat mengunjunginya tempo lalu, namun langsung kembali ke Osaka setelah mengetahui Sehun perlahan pulih. Urusan pekerjaan katanya. Aku maklum, semenjak ayahnya meninggal Sehun dan Hyungnya selalu bekerja keras untuk mengembalikan kondisi ekonomi keluarganya. Anak malang, bahkan di saat seperti ini dia harus sendiri. Karena itu setiap pulang kuliah aku selalu menyempatkan diri untuk menemaninya. Seperti saat ini aku sedang bermainuno card dengannya. Tak banyak yang bisa dilakukan mengingat kondisinya yang seperti itu. Setidaknya aku bisa sedikit melupakan kejadian yang menghatuiku itu.

Uno, kau akan kalah lagi Park Hayoung,” katanya sambil tersenyum licik

“Ah payah.” Aku melempar ringan kartu yang tadi aku pengan ke atas meja.

“Ngomong-ngomong kekasihmu tak marah jika kau setiap hari menemaniku?”  tiba-tiba dia mengubah topik pembicaraan kami. Aku sangat terkejut mendengar pertanyaannya.

“Kau tak suka, baiklah aku pergi,” ujarku. Sebenarnya aku juga tak ingin pergi dari ruangan itu.

“Ya ya ya .. bukan begitu.. tapi aku merasa tak enak pada dr.Zhang.” Dia menarik lenganku saat  aku hendak berdiri. Aku pun duduk kembali di hadapannya dengan muka masam.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku, siapa lagi temanmu yang mau merawatmu selain aku, huh?” omelku padanya. Harusnya dia bersyukur bukan sebagai teman aku mau menenmaninya, bukannya berbipikr yang macam-macam. “Lagipula itu kan urusan pribadiku dengan dr. Zhang kau tak perlu mencampurinya,” tandasku.

“Tapi kan…” selanya, tandak tak setuju dengan pendapatku.

“Sudahlah jangan bicara omong kosong, minum obat lah dan cepat sembuh kalau kau merasa sungkan padaku,” ucapku masih dengan nada sebal.

“Ya, Ish, tapi obat kan pait, eww,” rajuknya. Andai saja dia tidak gegar otak aku pasti sudah menoyor kepalanya.

End Hayoung POV

*

Sehun POV

Malam itu terasa sangat dingin. Aku bertanya-tanya sudah berapa aku terbaring di ranjang rumah sakit. Badanku selalu terasa pegal seluruh bagaian saat aku mulai menggerakkannya. Jika memang ingatanku tidak salah ini adalah kali kedua aku menggerakan tubuhku tanpa bantua suster setelah insiden kecelakaan itu. Aku memang lebih memilih malah hari atau bahkan dini hari untuk belajar berjalan lagi karena pada saat itu lah koridor rumah sakit dalam keadaan sepi sehingga aku dapat leluasa untuk melakukan terapi berjalanku.

Seperti biasa aku akan melakukan terapi berjalanku dari ujung lorong hingga ujung lorong lainnya. Dengan tertatih aku melangkahkan kakiku. Sesekali aku ingin terjatuh tapi aku tetap memaksakan langkahku. Aku harus sembuh, segera! Aku memotivasi diriku sendiri. Akupun lebih menegakkan langkahku. Hingga sampai di ujung lorong. Ada seseorang yang membuatku berhenti melangkah.

“Hanyoung-a sedang apa kau disini,” tanyaku pada gadis yang sangat aku kenal itu. “Kau menangis?” Tanpa berpikir panjang, refleks akupun langsung memeluknya. Selama aku mengenalnya, hanya sekali aku pernah mengetahui Park Hayoung dalam kondisi persis seperti ini. “Kau kenapa hmm?” tanyaku. Tidak ada jawaban darinya. Hanya tangisannya saja yang semakin pecah. Oh gadis malang.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s