Kepingan

gramophone_by_swilsonphotos-d5lo64z

Kotak pipih itu sangat berdebu saat aku menemukannya di sudut lemari antik di ruang keluarga. Aku tersenyum melihatnya, entah kenapa aku juga tak tahu. Itu hanya sebuah kotak pipih yang berisi kepingan benda yang berbentuk lingkaran. Hanya sebuah kepingan yang berisi kenangan didalamnya..

***

“Ayah, itu apa?” seru gadis kecil berkepang dua. Kemudian dia duduk di sebelah ayahnya dan memperhatikan lamat-lamat pria paruh baya itu. “Ini, ayah baru saja mendapatkan ini dari teman ayah kemarin. Ini The Beatles”. “ Betles?? ”. “The Beatles, band favorit ayah, ini kumpulan lagu mereka, kamu mau dengar?” “Ehm.. memang mereka terkenal?” “Sangat.” “Mereka terkenal seantero dunia, best of the best.” “okay, Let’s play”. Pria paruh baya  hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku putrinya. Selalu saja begitu, selalu ingin tahu.

Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better

Hey Jude. Aku selalu mengikuti setiap kata yang dalam baitnya setiap kali lagu itu terdengar. Aku tak tahu mengapa bisa begitu. Mungkin sudah kebiasaan. Mungkin karena nadanya indah. Atau mungkin karena kenangan yang lekat didalamnya. Aku bahkan takjub saat menyadari kebiasaanku yang satu ini, seperti kali ini, saat aku menikmati makan siang  tiba-tiba lagu ini terdengar seketika aku menghentikan aktivitasku dan megikuti si penyanyi melantukan lagu ini, Hey Jude.

*

“Oh itu yang nyanyi siapa ayah? Suaranya bagus, pinter main musik lagi.” “Itu Paul, Yang Itu John Lennon, dedengkotnya, dia banyak nyiptain lagu. Yang main drum itu Ringo, yang satunya  duh sapa ya, itu… err… George, George Harrison, susah sih namanya ayah jadi sering lupa nama dia haha…”. Tawa lepaspun terdengar khas bapak-bapak. Si gadis kecil pun tak kuasa untuk tak ikut tertawa. Tertawa itu menular.

 “Lagunya enak ya yah.. oh yang satu ini aku pernah dengar tapi dimana yah?” “ Mungkin diacara televisi yang sering kamu tonton.” Sahut sang ayah. “Penyanyi-penyanyi banyak kok yang bawain lagu mereka. Oh ya kamu kurangi nonton televisi mu itu. Sebentar lagi ujian kan?” “ hm. iya” jawab gadis kecil itu sekenanya, pikirannya masih terfokuskan pada lagu yang didengarnya.

Oh yeah, I’ll tell you something
I think you’ll understand
When I’ll say that something
I wanna hold your hand
I wanna hold your hand

Oh lagu ini. Kurt menyanyikannya rupanya, pikirku dalam hati ketika menemukan video musiknya di youtube saat aku mencari episode serial tv GLEE yang tak sempat ku tonton. I Want to Hold Your Hand mulai terdengar, ini versi akustik ya, tanyaku dalam hati. Oh, kenapa jadi sesedih ini, pikirku lagi saat mulai menikmati suara si Kurt. Tapi.. aku suka. Aku suka saat Kurt menyanyikannya. Aku juga masih dan sangat suka versi aslinya. I Want to Hold Your Hand. Aku suka lagu ini itu saja. Titik.

*

“Coba kamu dengar yang satu ini. Ini yang ayah paling suka, judulnya Here, There, and Everywhere” pria paruh baya itu kemudian menyaringkan lagu tersebut. “Eh.. Here, There, and Everywhere?? Disini, disana, dimana-mana?? Disini senang disana senang kayak lagu itu ya yah?? Hahaha..” gelak gadis mungil itu. “Bukan cepat perhatikan, lagu ini benar-benar indah”. sela sang ayah. Kemudian keduanya terhanyut dalam melodi-melodi indah yang ada.

To lead a better life I need my love to be here…

Here, making each day of the year
Changing my life with the wave of her hand
Nobody can deny that there’s something there

There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn’t know he’s there

I want her everywhere and if she’s beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share

Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I’m always there

I want her everywhere and if she’s beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share

Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I’m always there

I will be there and everywhere
Here, there and everywhere

Bulir itu tak dapat ku bendung. Aku tak bisa lagi sok tegar seperti disaat aku mengunjunginya ketika tanahnya  masih basah. Sepertinya saat ini aku benar-benar merindukannya.. Masih jelas ingatanku bagaimana berita itu sampai di telingaku. Aku tak menangis. Aku tak melakukan apa-apa. Aku tak tahu harus bagaimana. Bahkan saat adikku menangis di kakinya yang terbujur kaku. Atau saat bunda meraung masih meyakini beliau ada. Aku masih diam. Tak ada air mata. Aku tak bisa. Padahal aku ingin menjerit, mengeluarkan sesak yang menggerogoti tubuh ini. Tapi tak bisa, bulir itu tak jatuh pada saat itu, tetapi sekarang, saat sekitarku mulai tenang. Saat semuanya bisa mengerti dan menerima keadaan yang ada. Saat alunan Here, There, and Everywhere terdengar di balik earphone yang aku gunakan. Saat ini aku menangis.

*

“Oh, ini lagu yang terakhir ya yah? The Long and Winding Road”. “Lagu itu juga enak, apalagi didengar waktu hujan. Hahaha cocok deh winding, berangin gitu loh, hahaha” “ hahaha..”. Gelak mereka terdengar lagi, percakapan antar keduanya memang selalu memberikan kesan tersendiri. Khas seorang Ayah dan anak. Hangat. Tetapi kadang juga bisa saling berdebat seperti musuh atau juga saling memahami layaknya sahabat. Itu lah mereka dua orang diantara milyaran penduduk bumi yang bisa tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Dunia yang tak seluas bumi ini. Dunia yang hanya seluas ruang keluarga. 

Many times I’ve been alone and many times I’ve cried
Anyway you’ll never know the many ways I’ve tried
And still they lead me back to the long and winding road

***

Aku membuka kotak kecil berdebu itu dan mengeluarkan isinya. Kemudian memasangnya pada alat pemutar musik dan mulai menikmati alunan-alunan indah yang berasal darinya. Mendung kali ini sangat mendukung suasana hatiku. Sambil menyesap cappucinno yang mulai mendingin aku menikmati suasana ini. Seklebat potongan memori-memori indah turut hadir bersama lagu-lagu yang terputar. Hujan mulai turun agaknya. Tapi aku masih betah mendengarkan musik yang aku putar ini sampai lagu terakhir yang disenandungkan oleh penyanyinya. The Long and Winding Road menjadi penutup yang sempurna.  Gelas di tanganku sudah kosong, seperti pikiranku saat ini. Hanya dua hal yang ada dalam syarafku. Petricor-bau tanah setelah hujan- dan sebuah pertanyaan. Ayah, apakah kau baik-baik saja di surga?

Advertisements

2 thoughts on “Kepingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s